Mandiri Finansial – Penutupan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyusul serangan AS dan Israel pada Sabtu (28/2) langsung menekan ketahanan energi Indonesia, dengan cadangan BBM nasional yang hanya mencukupi kebutuhan selama 20 hari.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pernyataan tersebut saat hendak menghadiri rapat geopolitik di Istana Negara pada Senin (2/3).
Bahlil memastikan, konflik ini sejauh ini belum mengganggu distribusi BBM bersubsidi di dalam negeri.
Namun, ia mengakui eskalasi geopolitik berpotensi memicu koreksi harga minyak dunia ke depan.
Key Takeaways:
- Cadangan BBM Indonesia hanya bertahan 20 hari jika pasokan via Selat Hormuz benar-benar terputus.
- Inflasi Indonesia sudah mencapai 4,76% yoy per Februari 2026, jauh di atas target BI sebesar 2,5%.
- Ruang penurunan suku bunga BI semakin sempit jika harga BBM bersubsidi harus disesuaikan akibat lonjakan harga minyak global.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), lebih dari 20% konsumsi minyak harian global atau sekitar 18 hingga 20 juta barel per hari melewati Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan rute utama ekspor minyak mentah negara-negara OPEC termasuk Arab Saudi dan Iran, serta ekspor LNG dari Qatar.
Ancaman Inflasi Energi Mulai Nyata
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperingatkan tekanan inflasi energi akan masuk melalui dua jalur utama, yakni kenaikan biaya impor dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.894 per dolar AS pada 3 Maret 2026, melemah sekitar 0,18 hingga 0,21% secara harian dan sudah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500.
BPS mencatat inflasi Februari 2026 telah mencapai 4,76% secara tahunan, naik signifikan dari 3,55% pada Januari 2026 dan melampaui target BI di kisaran 2,5%.
Menurut Josua, bila harga minyak Brent mencapai USD85 per barel dan pemerintah menyesuaikan harga BBM bersubsidi, langkah tersebut dapat menambah inflasi sekitar 1,74 poin persentase melalui dampak langsung dan lanjutan.
Harga minyak Brent dalam perdagangan terbaru berada di kisaran USD67 per barel, sementara asumsi ICP dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar USD70 per barel.
Dampak ke Kredit dan Daya Beli Rumah Tangga
Josua menjelaskan, kenaikan inflasi energi berpotensi memperlambat kredit konsumsi dan menekan pendapatan riil rumah tangga secara bersamaan.
Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI Rate di level 4,75% berdasarkan keputusan Rapat Dewan Gubernur 20 hingga 21 Januari 2026.
Ruang penurunan suku bunga ke depan dinilai semakin terbatas dan akan sangat bergantung pada perkembangan harga energi serta stabilitas rupiah.
Sebagai perbandingan ketahanan energi regional, Jepang memiliki cadangan minyak untuk 254 hari, India sekitar 40 hingga 45 hari, dan Australia sekitar 32 hingga 36 hari untuk berbagai jenis bahan bakar.
APBN 2026 telah menyiapkan anggaran subsidi energi sekitar Rp318,9 triliun, namun struktur fiskal tetap sensitif terhadap pergerakan harga minyak global jika kenaikan berlangsung stabil di atas asumsi dasar.
Referensi:
- Kabar Bursa, Analis: Konflik AS–Israel vs Iran Dorong Momentum Kendaraan Listrik. Diakses pada 4 Maret 2026.
- Kabar Bursa, Ekonom Ungkap Ancaman Inflasi Energi di Balik Perang AS–Israel Vs Iran. Diakses pada 4 Maret 2026.
- Kumparan, Selat Hormuz Ditutup, Berapa Lama Cadangan Minyak Sejumlah Negara Bertahan?. Diakses pada 4 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
