Mandiri Finansial – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (6/3), bergerak 18 poin atau 0,11% ke level Rp16.923 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.905 per dolar AS.


Key Takeaways:

  • Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak Brent hampir 5% ke USD85,41 per barel, memperbesar tekanan pada rupiah.
  • Data non farm payroll AS yang akan dirilis diperkirakan turun ke 59 ribu dari sebelumnya 130 ribu, namun tetap membuat pelaku pasar menahan diri.
  • Penurunan outlook rating oleh Fitch menambah kekhawatiran, meski minat pada obligasi pemerintah jangka pendek-menengah menahan pelemahan lebih dalam.

Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sejak Kamis (5/3), ketika rupiah ditutup turun 0,08% ke Rp16.905 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.

Analis Pasar Uang Lukman Leong menyebut eskalasi ketegangan di Timur Tengah sebagai faktor dominan yang menekan rupiah pada hari ini.

Menurut Lukman, Iran mengancam akan membalas tindakan AS yang menenggelamkan kapal perangnya, sementara AS menyatakan akan mengerahkan pasukan darat untuk menyerang Iran.

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi, menyebabkan jutaan penduduk berlindung di tempat perlindungan bom.

Eskalasi tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak mentah, dengan Brent naik hampir 5% dan ditutup di level USD85,41 per barel, sementara WTI sempat menembus USD80 per barel.

Fiskal Terancam Jika Harga Minyak Terus Naik

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak akan mempersempit ruang fiskal pemerintah karena setiap selisih USD1 per barel minyak berpotensi menambah subsidi sebesar Rp10 triliun.

Rully juga mencatat bahwa penurunan outlook rating oleh Fitch menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.

Namun, Rully menyebut minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah jangka pendek hingga menengah meningkat, sehingga menahan pelemahan rupiah lebih dalam.

Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Berikutnya

Selain geopolitik, pelaku pasar tengah menunggu rilis data non farm payroll (NFP) AS yang diperkirakan hanya bertambah 59 ribu, jauh di bawah angka sebelumnya sebesar 130 ribu.

Lukman memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di rentang Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS, dengan indeks dolar AS berada di level 98,95.

Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan ditutup fluktuatif di rentang Rp16.900 hingga Rp16.940 pada penutupan perdagangan hari ini.

Faktor tambahan dari global adalah nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve oleh Presiden Donald Trump, yang dipandang pasar sebagai sinyal ramah terhadap penurunan suku bunga ke depan.


Referensi:

Featured Image: OpenAI