Mandiri Finansial – Rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3/2026), melemah hingga mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS seiring eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang belum mereda.
Key Takeaways:
- Rupiah melemah ke Rp 16.931 per dolar AS pada pembukaan Rabu (4/3), tertekan sentimen risk-off akibat konflik Timur Tengah.
- Bank Indonesia mengaktifkan intervensi melalui NDF, transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
- Kenaikan harga minyak dan ekspektasi tertundanya pemangkasan suku bunga The Fed menambah tekanan pada rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.23 WIB, rupiah anjlok 0,29% ke level Rp 16.921 per dolar AS, setelah sebelumnya dibuka melemah 52 poin atau 0,35% di level Rp 16.931 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Selasa (3/3), rupiah tercatat di Rp 16.872 per dolar AS, melemah tipis 0,02% dibanding hari sebelumnya di Rp 16.868 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut tekanan utama berasal dari sentimen risk-off global yang mendorong investor menjauhi aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.
“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan sentimen risk-off dari perkembangan perang AS-Israel dan Iran,” ujar Lukman seperti dikutip Kompas.com, Rabu (4/3).
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.950 per dolar AS sepanjang hari ini.
Minyak dan Inflasi Global Perparah Tekanan
Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, menyebut kenaikan harga minyak menjadi faktor penekan tambahan bagi rupiah.
Menurut Fikri, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia yang biasa diangkut melalui Selat Hormuz kini hampir terhenti sepenuhnya akibat konflik.
Survei global Bloomberg menunjukkan separuh responden memperkirakan inflasi akan meningkat lebih cepat di Eropa dan AS akibat dampak perang ini.
Ekspektasi tertundanya penurunan suku bunga The Fed serta tekanan sell-off di pasar keuangan domestik juga turut berkontribusi pada pelemahan rupiah hari ini, menurut Fikri.
BI Pastikan Intervensi Aktif di Pasar
Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan intervensi dilakukan secara menyeluruh baik di pasar offshore maupun domestik melalui instrumen NDF, transaksi spot, DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah,” kata Destry dalam keterangan resminya, Rabu (4/3).
Destry menambahkan bahwa secara month to date, rupiah tercatat melemah 0,51%, namun masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang regional lainnya.
Dari sisi fundamental, cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat tetap kuat di level USD 154,6 miliar, sementara arus modal asing masih mencatatkan net inflow sebesar Rp 25,7 triliun sepanjang 2026.
Referensi:
- Kumparan, Rupiah Tembus Rp 16.900 per Dolar AS di Tengah Perang Iran, BI Bakal Intervensi. Diakses pada 4 Maret 2026.
- Kompas, Rupiah Tertekan Dekati Rp 17.000 Per Dollar AS. Diakses pada 4 Maret 2026.
- Katadata, Rupiah Dibuka Melemah, Dekati Level 17.000 Imbas Ketegangan di Timur Tengah. Diakses pada 4 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
