Mandiri Finansial – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran kini memasuki minggu ketiga dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, mendorong harga minyak mentah Brent menembus level 103,14 dolar AS per barel pada penutupan Jumat (13/3).


Key Takeaways:

  • Harga minyak Brent bertahan di atas 100 dolar AS selama dua sesi berturut-turut, dipicu penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk.
  • Pentagon memperkirakan perang akan berlangsung empat hingga enam minggu, membuat tekanan pasokan minyak global berpotensi berlanjut hingga April.
  • Pertemuan Federal Reserve pada 17-18 Maret menjadi titik penentu berikutnya, dengan pasar mengantisipasi suku bunga dipertahankan akibat tekanan inflasi dari lonjakan harga energi.

Mengutip CNBC, kontrak berjangka Brent naik 2,67% atau 2,68 dolar AS dan ditutup pada 103,14 dolar AS per barel pada hari Jumat.

Setara dengan sekitar Rp 1.749.259 per barel jika menggunakan kurs Rp 16.960 per dolar AS.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,11% menjadi 98,71 dolar AS per barel pada sesi yang sama.

Hormuz Tertutup, Infrastruktur Teluk Jadi Sasaran

Penutupan Selat Hormuz menjadi faktor tekanan pasokan terbesar, mengingat jalur ini biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, menurut laporan Metro TV News.

Serangan drone Iran menghantam terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab, tak lama setelah AS menyerang target militer di Pulau Kharg, Iran, pada hari Sabtu.

Analis JP Morgan Natasha Kaneva menyatakan bahwa serangan ini menandai peningkatan eskalasi konflik secara signifikan.

Terminal Ras Tanura dan fasilitas pengolahan Abqaiq di Arab Saudi juga masuk daftar fasilitas energi yang sangat rentan terdampak, menurut laporan Kompas.com.

Fujairah sendiri merupakan jalur keluar sekitar 1 juta barel minyak mentah Murban andalan UEA per hari, setara dengan sekitar 1% dari permintaan global.

Fed dan Durasi Perang Jadi Penentu Arah Selanjutnya

Kevin Hassett, Kepala Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, mengungkapkan bahwa Pentagon memperkirakan perang akan selesai dalam empat hingga enam minggu, dengan catatan keputusan akhir ada di tangan Presiden Trump, dikutip dari Bloomberg.

International Energy Agency (IEA) merespons situasi ini dengan mengumumkan pelepasan lebih dari 400 juta barel cadangan minyak ke pasar, dengan stok dari Asia dan Oseania dilepas lebih awal dan stok dari Eropa serta Amerika tersedia akhir Maret, menurut laporan Kompas.com.

Di sisi pasar saham, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,4% menjadi 6.709,50 poin pada pembukaan Senin (16/3), sementara Nasdaq 100 juga naik 0,4%, mengutip data Investing.com via Metro TV News.

Namun ketiga indeks utama Wall Street mencatat pelemahan mingguan, dengan S&P 500 turun 1,6%, Dow Jones turun 2%, dan Nasdaq Composite merosot 1,3% sepanjang pekan lalu.

Pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 17-18 Maret menjadi fokus utama investor, di mana pasar secara umum memperkirakan suku bunga akan dipertahankan di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi, menurut Metro TV News.


Referensi:

Featured Image: OpenAI