Mandiri Finansial – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 0,68% secara bulanan, melampaui proyeksi konsensus pasar di angka 0,3%.

Angka ini menandai pembalikan arah dari Januari 2026 yang masih berada dalam zona deflasi.

Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026, berdasarkan data resmi BPS.


Key Takeaways:

  • Inflasi bulanan Februari 2026 tercatat 0,68%, jauh di atas konsensus median 0,3%.
  • Kelompok pangan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama dengan andil 0,45%.
  • Komponen inti turut meningkat 0,42%, didorong emas perhiasan dan minyak goreng.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,54% dengan andil terbesar ke inflasi bulanan sebesar 0,45%.

Menurut Ateng dalam konferensi pers Senin (2/3/2026), komoditas dengan andil terbesar adalah daging ayam ras sebesar 0,09%, diikuti cabai rawit 0,08%, dan ikan segar 0,05%.

Cabai merah menyumbang andil 0,04%, sementara tomat, beras, dan telur ayam ras masing-masing berkontribusi sebesar 0,02%.

Emas dan Komponen Inti Turut Mendorong

Komponen inti mencatat inflasi sebesar 0,42% dengan andil 0,27% terhadap inflasi bulanan secara keseluruhan.

BPS menyebut emas perhiasan, minyak goreng, mobil, dan nasi dengan lauk menjadi komoditas dominan dalam komponen inti tersebut.

Sementara itu, komponen harga bergejolak mengalami inflasi 2,50% dengan andil 0,41%, yang didominasi oleh daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah.

Sebaran Inflasi di Tingkat Provinsi

Dari 38 provinsi, sebanyak 33 provinsi mencatat inflasi pada Februari 2026, sementara 5 provinsi masih mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi tercatat di Sulawesi Selatan sebesar 1,04%, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Papua Barat sebesar 0,65%.

Secara tahunan, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% year-on-year, dengan inflasi tahun kalender mencapai 0,53% year-to-date.


Referensi:

Featured Image: OpenAI