Mandiri Finansial – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,76%, berbalik tajam dari deflasi 0,09% pada Februari 2025.
Angka ini dipengaruhi oleh dua faktor utama yang saling memperkuat satu sama lain.
Pertama, lonjakan harga pangan menjelang Ramadan mendorong tekanan harga dari sisi permintaan.
Kedua, efek basis rendah dari kebijakan diskon tarif listrik yang diterapkan pemerintah pada Januari hingga Februari 2025 turut mendistorsi perbandingan tahunan.
Key Takeaways:
- Inflasi tahunan 4,76% sebagian besar dipengaruhi efek basis rendah diskon listrik 2025, bukan lonjakan harga struktural.
- Harga pangan volatile seperti daging ayam ras dan cabai rawit menjadi pendorong utama inflasi bulanan 0,68%.
- Inflasi tahun kalender (year-to-date) masih terkendali di level 0,53%, memberi sinyal tekanan harga belum meluas.
Secara bulanan, inflasi Februari 2026 tercatat 0,68%, melampaui perkiraan sejumlah ekonom yang memproyeksikan angka di kisaran 0,1% hingga 0,2%.
Menurut BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyatakan inflasi tahunan tidak sepenuhnya mencerminkan tekanan harga yang berlebihan.
Menurut Ateng, perbandingan dengan periode tahun lalu yang memiliki basis harga sangat rendah memberikan dampak statistik yang besar.
“Akibatnya, pada Februari 2026 tingkat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi meskipun dinamika harga sesungguhnya relatif sejalan dengan tren fundamental,” demikian penjelasan BPS dalam rilis resminya, Senin (2/3).
Pangan dan Listrik Jadi Pendorong Utama
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi bulanan sebesar 1,54% dengan andil 0,45% terhadap inflasi keseluruhan.
Komoditas pendorong utama inflasi bulanan adalah daging ayam ras dengan andil 0,09%, cabai rawit 0,08%, ikan segar 0,05%, serta cabai merah 0,04%.
Tomat, beras, dan telur ayam ras masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02%.
Secara komponen, volatile food memberikan andil terbesar sebesar 0,41%, sementara komponen inti menyumbang 0,27% yang didorong kenaikan harga emas perhiasan dan minyak goreng.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tahunan paling tinggi di angka 16,19%, dengan andil 2,26% terhadap inflasi tahunan keseluruhan.
Sinyal yang Perlu Dicermati ke Depan
Di sisi lain, komponen administered prices mengalami deflasi 0,03%, ditopang oleh penurunan harga bensin yang memberi andil deflasi 0,05%.
Secara geografis, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi bulanan, sementara 5 provinsi masih mencatat deflasi.
Aceh mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,94%, sedangkan Papua Pegunungan mencatat yang terendah di angka 0,63%.
Inflasi year-to-date masih berada di level 0,53%, yang mengindikasikan tekanan harga secara kumulatif belum bergerak secara agresif.
Perkembangan harga pangan pada periode puncak Ramadan dan Lebaran menjadi faktor penentu arah inflasi bulan-bulan berikutnya.
Referensi:
- Kompas, Inflasi Tahunan Februari 2026 Capai 4,76 Persen, Terdorong Efek Basis Rendah Diskon Listrik. Diakses pada 2 Maret 2026.
- Katadata, Harga Daging Ayam hingga Cabai Naik, BPS Catat Inflasi Februari 0,68%. Diakses pada 2 Maret 2026.
- Kompas, Inflasi Februari 2026 0,68 Persen, Dipicu Lonjakan Harga Pangan saat Ramadan. Diakses pada 2 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
