Mandiri Finansial – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pekan ini dengan tekanan berat, turun 262,58 poin atau 3,46% ke posisi 7.323,11 pada Senin (9/3/2026). Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi sepekan terakhir yang telah mencapai 7,8%, dipicu kombinasi aksi jual asing di sektor perbankan dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.


Key Takeaways:

  • IHSG terkoreksi 3,46% ke 7.323,11, dengan level terendah menyentuh 7.156,68 pada sesi pagi.
  • Investor asing mencatat net sell besar di saham perbankan; BBCA menanggung tekanan terbesar dengan net sell Rp707,31 miliar dalam sepekan.
  • Analis memproyeksikan IHSG masih berpotensi melemah jangka pendek di tengah sentimen risk off global.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat menyentuh level tertinggi pagi ini di 7.374,31 sebelum tergelincir ke titik terendah 7.156,68.

Indeks LQ45 terkoreksi 3,53% ke level 748,635, sementara IDX30 turun 3,24% ke posisi 396,793.

Penurunan terdalam dicatat oleh IDX80 yang merosot 3,75%, dengan nilai transaksi ekuitas melampaui Rp17,73 triliun pada sesi pagi.

Dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten masih berada di zona merah, dengan 655 saham melemah berbanding hanya 53 saham yang menguat.

Saham Bank Raksasa Jadi Penekan Utama

Investment Specialist KISI, Azharys Hardian, menyebut saham berkapitalisasi besar sebagai kontributor utama penurunan indeks sepanjang pekan lalu.

Menurut Azharys, saham BBRI, BBCA, dan BYAN menjadi pemberat IHSG yang paling signifikan pada perdagangan Jumat (6/3/2026).

Berdasarkan data BEI, saham BBRI turun 6,14% dalam sepekan terakhir ke Rp3.670 per saham, sementara BMRI terkoreksi 5,59% ke Rp4.980 per saham.

Saham BBNI melemah 2,95% menjadi Rp4.270 per saham, sedangkan BBCA turun 2,44% dan ditutup di level Rp7.000 per saham.

Tekanan pada saham perbankan sejalan dengan derasnya arus keluar dana asing, di mana BBCA mencatat net sell tertinggi senilai Rp707,31 miliar dalam sepekan.

Net sell asing juga tercatat pada BBRI senilai Rp492,21 miliar, BBNI sebesar Rp459,39 miliar, dan BMRI sekitar Rp241,58 miliar.

Arah IHSG Jangka Pendek Masih Menantang

Azharys menyatakan IHSG telah menyentuh area support teknikal di level 7.510, yang biasanya menjadi titik penahan sementara saat tekanan jual meningkat.

Namun ia memproyeksikan IHSG masih berpotensi melemah dalam jangka pendek di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dan pelemahan indeks regional yang cukup dalam.

Kondisi ini mendorong sikap risk off di pasar, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham domestik.


Referensi:

Featured Image: OpenAI