Mandiri Finansial – IHSG ambles 343,20 poin atau 4,32% ke level 7.596,57 pada penutupan sesi I perdagangan Rabu (4/3), terseret kombinasi gejolak geopolitik Timur Tengah dan tekanan penilaian lembaga rating global.
Tekanan jual mendominasi sepanjang sesi dengan 748 saham melemah, hanya 68 saham berada di zona hijau, dan 142 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat Rp17,18 triliun dengan frekuensi 2,01 juta kali transaksi, sementara kapitalisasi pasar turun menjadi Rp13.620,768 triliun.
Key Takeaways:
- Iran menutup Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak Brent melewati USD80 per barel dan memperburuk sentimen pasar Asia.
- Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, mempercepat aksi jual investor asing.
- Zona penopang psikologis IHSG berada di 7.500–7.600, dengan potensi rebound ke 7.900–8.100 jika ketegangan mereda.
Selat Hormuz Ditutup, Bursa Asia Ikut Terguncang
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menyatakan pelemahan IHSG sejalan dengan koreksi tajam di sejumlah bursa kawasan.
Menurut Irvan, Korea Selatan bahkan sempat mengalami trading halt setelah indeks Kospi turun lebih dari 8%.
Irvan menjelaskan tekanan pasar dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin intens, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi global.
Penutupan jalur tersebut langsung tercermin pada harga minyak dunia yang melonjak, dengan Brent menembus USD80 per barel.
Fitch dan Risiko Fiskal Perparah Tekanan Domestik
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai koreksi tajam IHSG merupakan akumulasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan.
Hendra menyebut sebagai net oil importer, setiap kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar beban subsidi dan menekan APBN Indonesia.
Tekanan semakin dalam setelah Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat kredit tetap di level investment grade BBB.
Menurut Hendra, pasar membaca perubahan outlook tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko fiskal dan stabilitas kebijakan ke depan.
Hendra juga mencatat ada faktor teknikal berupa aksi ambil untung setelah reli panjang sejak awal tahun, pelemahan rupiah akibat capital outflow, serta kekhawatiran bahwa inflasi energi dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga.
Hendra memproyeksikan hingga akhir Maret, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh harga minyak dan stabilitas rupiah, dengan area 7.500–7.600 sebagai zona penopang psikologis penting.
Jika harga Brent mendekati USD100 disertai gangguan distribusi di Selat Hormuz, Hendra memperingatkan pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam hingga menguji kembali area 7.400.
Referensi:
- Liputan6, IHSG Anjlok 4 Maret 2026, Pengamat: Kombinasi Konflik Iran dan Outlook Fitch. Diakses pada 4 Maret 2026.
- infobanknews, IHSG Sesi I Ambles 4,32 Persen ke Posisi 7.596. Diakses pada 4 Maret 2026.
- Kumparan, IHSG Ambles 4 Persen, Bursa Asia Ikut Terseret Penutupan Selat Hormuz. Diakses pada 4 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
