Mandiri Finansial – Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada Senin (2/3/2026) setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.

Menurut data yang dikutip dari Reuters via Kompas.com, harga Brent ditutup di level US$77,74 per barel, naik 6,68% atau setara US$4,87.

Sementara itu, harga WTI AS tercatat di level US$71,23 per barel, naik 6,28% atau US$4,21 dalam satu sesi perdagangan.


Key Takeaways:

  • Brent naik 6,68% ke US$77,74 per barel setelah serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari.
  • Bloomberg Intelligence memproyeksikan Brent bisa turun ke US$60–US$70 jika eskalasi mereda, atau menembus US$100 jika Selat Hormuz terganggu.
  • Inflasi menjadi kekhawatiran utama pasar global seiring lonjakan harga energi dan potensi konflik yang berlangsung berminggu-minggu.

Eskalasi tersebut memaksa penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan Timur Tengah serta mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang menghubungkan produsen minyak Teluk Persia ke pasar global.

Pelaku pasar mencemaskan durasi konflik yang diperkirakan dapat berlangsung berminggu-minggu, menurut laporan Kompas.com.

Skenario Harga Minyak ke Depan

Bloomberg Intelligence membeberkan enam skenario harga Brent bergantung pada arah eskalasi konflik Iran-AS-Israel.

Senior analis energi Bloomberg Intelligence, Salih Yilmaz, menyatakan Brent berpotensi turun ke US$60–US$70 per barel jika eskalasi mereda dalam waktu dekat.

Namun jika Selat Hormuz benar-benar terganggu secara signifikan, Brent berpotensi menembus lebih dari US$100 per barel.

Pasar saat ini masih menunggu kejelasan langkah Iran selanjutnya setelah serangan AS-Israel pada Jumat (28/2), menurut Bloomberg Intelligence.

Dampak ke Pasar Keuangan Global

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik di seluruh tenor.

Chief Investment Strategist 248 Ventures, Lindsey Bell, menyatakan kekhawatiran utama pasar saat ini tertuju pada inflasi dan lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Bell menambahkan, kondisi ini mendorong investor tetap fokus pada saham-saham AS karena dinilai memiliki kepastian lebih besar dari sisi kinerja laba dibandingkan kawasan lain.

Di Wall Street, indeks S&P 500 ditutup naik tipis 0,04% ke level 6.881,62, sementara Nasdaq menguat 0,36% dan Dow Jones turun 0,15%, menurut laporan Kompas.com.

Sektor energi menjadi penopang utama Wall Street dengan kenaikan hampir 2%, diikuti sektor industri termasuk saham pertahanan yang naik sekitar 1%.


Referensi:

Featured Image: OpenAI