Mandiri Finansial – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam melampaui level US$115 per barel pada Senin (9/3), dipicu oleh penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.


Key Takeaways:

  • Harga WTI dan Brent naik lebih dari 25% dalam satu sesi, lonjakan mingguan terbesar sejak 1983.
  • Selat Hormuz lumpuh, menahan sekitar 20% pasokan minyak dunia dari distribusi normal.
  • Produsen besar seperti Irak, Kuwait, dan UEA mulai memangkas produksi karena kapasitas penyimpanan terbatas.

Berdasarkan data Bloomberg, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 diperdagangkan di kisaran US$115,25 per barel, melonjak US$24,35 atau sekitar 26,79% dibandingkan sesi sebelumnya.

Harga minyak Brent, acuan utama pasar global, tercatat di level US$115,82 per barel untuk kontrak Mei 2026, naik sekitar 24,95% dari sesi sebelumnya.

Secara mingguan, harga minyak mentah AS bahkan melonjak sekitar 35%, yang menurut data CNBC merupakan kenaikan terbesar dalam sejarah kontrak berjangka sejak 1983.

Selat Hormuz Lumpuh, Pasokan Global Terganggu

Sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, terutama kapal tanker, telah terhenti sejak pekan lalu akibat ancaman dan serangan dari pihak Iran.

Padahal, sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya dikirim melalui jalur strategis tersebut setiap harinya.

Produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan Irak dilaporkan anjlok sekitar 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari, turun drastis dari sebelumnya 4,3 juta barel per hari sebelum perang pecah.

Kuwait Petroleum Corporation juga mengumumkan pemangkasan produksi sebagai langkah pencegahan karena adanya ancaman Iran terhadap keamanan kapal yang melintas.

Uni Emirat Arab, produsen terbesar ketiga di OPEC, menyatakan sedang menyesuaikan tingkat produksi minyak lepas pantai dengan kapasitas penyimpanan yang semakin terbatas.

Respons Pasar dan Pernyataan Trump

Adnan Mazarei dari Peterson Institute for International Economics mengatakan lonjakan harga minyak sudah diperkirakan, mengingat produksi telah dihentikan di beberapa negara Teluk dan konflik menunjukkan tanda-tanda berlangsung lama.

Mazarei menambahkan bahwa janji-janji asuransi dan target yang ditetapkan oleh AS “menjadi lebih tidak realistis,” seperti dikutip BBC.

Presiden AS Donald Trump merespons lonjakan harga melalui media sosial Truth Social dengan menyebut kenaikan ini sebagai konsekuensi yang bisa diterima.

“Kenaikan harga minyak dalam jangka pendek adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran,” tulis Trump, dikutip dari CNBC.

Di sisi lain, perang siber antara kedua pihak juga meningkat, dengan operasi gabungan AS dan Israel yang dibalas oleh kelompok hacktivist berafiliasi Iran yang menargetkan infrastruktur vital, seperti dilaporkan Bloomberg Technoz.

Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong biaya produk turunan penting seperti bahan bakar jet dan prekursor pupuk, yang dampaknya bisa dirasakan secara luas oleh konsumen dan bisnis di seluruh dunia.


Referensi:

Featured Image: OpenAI