Mandiri Finansial – Harga minyak dunia melonjak tajam sejak Minggu (8/3/2026) dipicu memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, membuat tekanan fiskal Indonesia semakin nyata.


Key Takeaways:

  • Harga minyak Brent sempat melonjak 28,9% ke USD119,5 per barel, jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD70 per barel.
  • Rupiah menembus level Rp17.015 per USD pada Senin (9/3/2026), menambah beban utang luar negeri Indonesia.
  • DPR mendesak Kementerian Keuangan segera melakukan simulasi mitigasi fiskal agar APBN tetap valid.

Menurut data dari IDX Channel, harga minyak jenis Brent sempat menyentuh level USD119,5 per barel pada perdagangan intraday Senin (9/3/2026), sebelum turun ke kisaran USD102,6 per barel pada sore harinya.

Level tersebut tercatat sebagai yang tertinggi sejak 30 Juni 2022, menurut laporan IDX Channel.

Harga minyak di kisaran USD102,6 per barel masih sekitar 46,6% di atas asumsi makroekonomi APBN 2026 yang dipatok sebesar USD70 per barel.

Menurut Stockbit, pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan tajam harga minyak yang memunculkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal Indonesia sebagai negara net importir minyak.

Tekanan ke APBN Semakin Nyata

Anggota Komisi VI DPR RI, Muhammad Sarmuji, menyatakan kombinasi lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pos subsidi energi dalam APBN.

Menurut Sarmuji, seperti dikutip dari Liputan6.com, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa harus segera melakukan simulasi skenario agar APBN tetap valid menghadapi kondisi global yang bergejolak.

Sarmuji juga mengingatkan bahwa penguatan dolar AS secara otomatis meningkatkan nilai kewajiban utang luar negeri Indonesia saat dikonversi ke rupiah.

Nilai tukar rupiah sendiri sempat menembus Rp17.015 per USD pada perdagangan Senin (9/3/2026), menurut laporan IDX Channel.

Koordinasi Jadi Kunci Respons Pemerintah

Sarmuji menekankan langkah mitigasi perlu dilakukan secara terbuka dan terkoordinasi antara pemerintah, DPR, dan publik, seperti dilaporkan Kabar Bursa.

Ia menegaskan bahwa gejolak global tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya terhadap ekonomi nasional harus dikelola dengan baik melalui langkah antisipatif yang segera.

DPR menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi global yang berpotensi memengaruhi ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.


Referensi:

Featured Image: OpenAI