Mandiri Finansial – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam pada Selasa (10/3/2026), sehari setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun.
Penurunan ini dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memprediksi perang dengan Iran akan segera berakhir.
Key Takeaways:
- Harga Brent turun 11% menjadi USD 87,80 per barel, penurunan harian terbesar sejak Maret 2022.
- Selat Hormuz yang sempat terganggu mulai menunjukkan sinyal pembukaan kembali setelah pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS.
- EIA memperkirakan harga Brent masih di atas USD 95 per barel dalam dua bulan ke depan sebelum turun ke sekitar USD 70 pada akhir tahun.
Menurut laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun USD 11,16 atau sekitar 11% menjadi USD 87,80 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun USD 11,32 atau 11,9% menjadi USD 83,45 per barel.
Kedua acuan harga tersebut mencatat penurunan persentase harian terbesar sejak Maret 2022.
Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga di atas USD 119 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022, akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari konflik di Timur Tengah.
Sinyal Deeskalasi Ubah Sentimen Pasar
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran berjalan lebih cepat dari perkiraannya.
“Saya pikir perang melawan Iran hampir sepenuhnya selesai, dan kami sudah sangat jauh melampaui perkiraan awal saya,” kata Trump seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan tersebut seketika mengubah sentimen pasar dari kekhawatiran pasokan menjadi optimisme deeskalasi geopolitik.
Menurut pendiri Lipow Oil Associates Andrew Lipow, pasar mulai melihat kemungkinan Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran minyak sehingga kekhawatiran gangguan pasokan mereda.
Konflik ini sebelumnya diperkirakan telah mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran menutup jalur pelayaran menyusul operasi militer AS dan Israel pada 28 Februari 2026.
Arah Harga Minyak ke Depan
Menteri Energi AS Chris Wright sempat menulis di platform X bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker melewati Selat Hormuz, meskipun unggahan tersebut kemudian dihapus.
Selain faktor diplomasi, rencana Trump untuk melonggarkan sanksi minyak Rusia dan melepaskan cadangan darurat turut menekan harga di pasar global, menurut laporan Sindonews.
Dalam laporan bulanan terbarunya, Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan harga minyak Brent masih akan diperdagangkan di atas USD 95 per barel dalam dua bulan ke depan akibat sisa dampak gangguan pasokan.
Namun EIA memperkirakan harga akan turun hingga sekitar USD 70 per barel pada akhir tahun 2026 seiring normalisasi kondisi pasokan global.
Referensi:
- Kompas, Harga Minyak Dunia Anjlok 11 Persen Setelah Trump Prediksi Perang dengan Iran Segera Mereda. Diakses pada 11 Maret 2026.
- Kumparan, Harga Minyak Mentah Anjlok 11% Usai Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir. Diakses pada 11 Maret 2026.
- Sindonews, Trump Sesumbar Perang dengan Iran Segera Berakhir, Harga Minyak Terjun Bebas. Diakses pada 11 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
