Mandiri Finansial – Serangan militer besar-besaran AS dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2) memicu lonjakan tajam harga emas dunia ke level tertinggi dalam sepekan terakhir.

Menurut laporan Kompas.com, harga emas di pasar spot naik 1,80% dari posisi $5.182 per troy ons ke kisaran $5.278–$5.280 per troy ons.


Key Takeaways:

  • Harga emas dunia naik 3,12% secara mingguan, didorong eskalasi konflik AS-Israel versus Iran.
  • Emas Antam menembus Rp3.085.000 per gram pada Sabtu (28/2), naik Rp57.000 dalam sepekan.
  • Analis memproyeksikan harga emas global berpotensi menyentuh $5.500 per troy ons dalam sepekan ke depan.

Secara mingguan, kenaikan harga emas dunia tercatat mencapai 3,12%, berdasarkan data yang dilaporkan Kompas.com.

Pengamat ekonomi dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut ketidakpastian geopolitik sebagai katalis utama penguatan emas sebagai aset safe haven.

Kegagalan pertemuan delegasi AS dan Iran di Geneva terkait isu reaktor nuklir turut memperkeruh situasi dan memperkuat permintaan terhadap emas.

Iran merespons serangan tersebut dengan aksi balasan yang menargetkan wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan, menurut laporan Kompas.com.

Emas Antam Ikut Melesat

Di pasar domestik, harga emas batangan Antam pada Sabtu (28/2) tercatat di Rp3.085.000 per gram, naik Rp40.000 dari posisi sebelumnya Rp3.045.000 per gram.

Berdasarkan data yang dihimpun Kumparan, harga emas Antam naik total Rp57.000 per gram sepanjang pekan 23 Februari hingga 1 Maret 2026.

Harga buyback Antam juga ikut menguat, dari Rp2.813.000 per gram pada Senin (23/2) menjadi Rp2.864.000 per gram pada Minggu (1/3).

Proyeksi Pekan Depan

Ibrahim Assuaibi memperkirakan level resisten pertama emas dunia berada di $5.365 per troy ons, dengan logam mulia berpotensi menembus Rp3.150.000 per gram.

Dalam skenario optimistis sepekan ke depan, harga emas global bahkan bisa menyentuh $5.500 per troy ons dan logam mulia mencapai Rp3.400.000 per gram, menurut Ibrahim seperti dikutip Kompas.com.

Ibrahim juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik ini berpotensi memicu efek berantai terhadap inflasi global dan melemahkan rupiah.


Referensi:

Featured Image: OpenAI