Mandiri Finansial – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memaksa sejumlah manajer investasi lokal merespons cepat dengan merestrukturisasi portofolio mereka per Senin (2/3/2026).

Langkah ini menjadi sinyal nyata bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini diterjemahkan langsung ke dalam keputusan alokasi aset di pasar modal Indonesia.


Key Takeaways:

  • Fund manager lokal meningkatkan porsi kas dan memangkas eksposur saham ke level di bawah 92% sebagai respons atas meningkatnya risiko geopolitik.
  • BI mengidentifikasi tiga jalur transmisi dampak konflik, yakni harga komoditas, nilai tukar rupiah, dan gangguan perdagangan ekspor-impor.
  • Prospek ekonomi domestik 2026 tetap diproyeksikan solid di kisaran 4,9–5,7%, dengan inflasi ditargetkan terjaga di 2,5% ±1%.

Portofolio Bergeser ke Aset Defensif dan Komoditas

Head of Investment & Research Division BNI Asset Management, Yekti Dewanti, menyebut pihaknya telah melakukan rebalancing portofolio sebelum eskalasi konflik semakin tajam.

Menurut Yekti, porsi kas ditingkatkan dengan memangkas porsi saham ke level defensif di bawah 92%.

Di sisi lain, sejumlah pengelola dana justru memperbesar taruhan pada saham dengan eksposur minyak dan gas, mineral logam, serta emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar AS.

Pergerakan ini mencerminkan strategi lindung nilai terhadap potensi lonjakan harga komoditas dan pelemahan nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian global yang meningkat.

BI Pantau Tiga Jalur Dampak ke Ekonomi Domestik

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memonitor berbagai indikator ekonomi terkini di tengah membesarnya risiko geopolitik.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menyebutkan perekonomian global masih dalam tren perlambatan dan dibayangi volatilitas pasar keuangan, termasuk ketidakjelasan arah suku bunga acuan The Fed.

BI mengidentifikasi tiga jalur transmisi dampak konflik terhadap Indonesia, yaitu harga komoditas seperti minyak, emas, dan pangan; pergerakan nilai tukar rupiah; serta potensi gangguan volume perdagangan ekspor dan impor.

Menurut Aida, kenaikan harga minyak akan langsung berdampak pada biaya transportasi dan harga-harga lainnya, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat menjelang Lebaran.

BI memastikan institusinya tetap hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai salah satu prioritas utama saat ini.

Meski demikian, prospek ekonomi domestik 2026 dinilai tetap solid, dengan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 4,9–5,7% setelah tumbuh 5,11% pada 2025.

Inflasi juga diproyeksikan tetap berada dalam target 2,5% ±1%, dengan permintaan domestik pada kuartal I 2026 yang bertepatan dengan periode Hari Besar Keagamaan Nasional menjadi penopang utama pertumbuhan.


Referensi:

Featured Image: OpenAI