Mandiri Finansial – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengguncang pasar keuangan Asia pada Rabu (4/3), mendorong koreksi tajam di sejumlah bursa utama kawasan sekaligus mendorong harga minyak lebih tinggi.

Berdasarkan laporan Kabarbursa.com, indeks Kospi Korea Selatan ditutup anjlok 12,2%, sementara Nikkei 225 Jepang merosot lebih dari 4%.

Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 2,5% dan Shanghai Composite China turun sekitar 0,8% pada sesi perdagangan yang sama.


Key Takeaways:

  • IHSG turun 4,32% ke level 7.596,58 pada sesi I perdagangan Rabu (4/3), dengan nilai transaksi Rp17,79 triliun.
  • Harga minyak Brent naik 2,8% setelah lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir terhenti akibat ancaman Iran.
  • IMF menyatakan masih terlalu dini mengukur dampak pasti konflik ini dan akan merilis penilaian komprehensif di World Economic Outlook April.

Di Korea Selatan dan Thailand, circuit breaker sempat aktif setelah indeks masing-masing turun lebih dari 8%, menghentikan perdagangan sementara guna menahan aksi jual panik.

Tekanan turut merambat ke pasar domestik Indonesia, dengan IHSG tercatat turun 343,19 poin atau 4,32% ke level 7.596,58 pada sesi I perdagangan Rabu (4/3).

Menurut data yang dihimpun Kabarbursa.com, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi 7.897,81 sebelum turun ke level terendah 7.584,86 sepanjang sesi, dengan nilai transaksi Rp17,79 triliun.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasokan Energi

Harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 2,8% pada perdagangan sore Asia setelah melonjak dalam dua hari sebelumnya, berdasarkan laporan Kabarbursa.com.

Kenaikan harga energi dipicu oleh serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak paling vital yang menghubungkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Lalu lintas kapal di kawasan tersebut dilaporkan hampir sepenuhnya terhenti setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas, menurut Kabarbursa.com.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS siap melindungi kapal-kapal di kawasan tersebut guna memastikan pasokan energi global tetap mengalir.

IMF Pantau, PT SMI Klaim Dampak Terbatas

International Monetary Fund (IMF) menyatakan dalam pernyataan resminya pada Rabu (4/3) bahwa lembaga ini telah mengamati gangguan perdagangan, lonjakan harga energi, dan volatilitas di pasar keuangan akibat konflik ini.

Menurut IMF, besarnya dampak ekonomi akan sangat bergantung pada skala dan durasi konflik, dan lembaga ini akan menyampaikan penilaian komprehensif dalam laporan World Economic Outlook edisi April mendatang.

Di sisi domestik, Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) Reynaldi Hermansjah menyatakan dampak geopolitik terhadap proyek infrastruktur yang dibiayai perseroan relatif terbatas karena 75–80% portofolionya menggunakan mata uang rupiah.

Namun Reynaldi mengakui risiko tetap ada di tingkat pemilik proyek yang masih bergantung pada impor komponen seperti turbin dan pipa, karena gangguan distribusi di jalur laut berpotensi memengaruhi proses pengadaan.


Referensi:

Featured Image: OpenAI