Harga minyak dunia mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa tahun terakhir seiring perang yang melibatkan Iran semakin meluas dan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terhenti total.

Menurut laporan CNBC pada Jumat (6/3), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,51% dalam sehari dan ditutup di level USD 81,01 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent selaku patokan global naik 4,93% menjadi USD 85,41 per barel pada sesi perdagangan yang sama.

Secara mingguan, harga minyak AS telah melonjak sekitar 21%, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020, menurut data yang dikutip CNBC.


Key Takeaways:

  • Harga minyak WTI melonjak 21% dalam sepekan akibat Selat Hormuz terhenti total dari lalu lintas kapal tanker.
  • AS memberikan izin sementara 30 hari kepada India untuk membeli minyak Rusia guna menjaga stabilitas pasokan global.
  • Trump mengakui harga bensin naik tetapi menyatakan operasi militer lebih prioritas daripada gejolak harga energi.

Garda Revolusi Iran memerintahkan penutupan Selat Hormuz awal pekan ini dan mengancam akan menyerang kapal tanker yang melewatinya, menurut laporan Liputan6.

Iran juga mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker minyak dengan rudal, berdasarkan laporan media pemerintah Iran yang dikutip oleh CNBC.

Angkatan Laut Inggris pada Kamis (5/3) turut melaporkan ledakan besar di sebuah kapal tanker yang berlabuh di perairan teritorial Irak, meski seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20% konsumsi minyak global diekspor melalui perairan tersebut setiap harinya.

Respons AS dan Perubahan Arus Perdagangan Minyak Global

Di tengah gejolak ini, Amerika Serikat memberikan izin sementara kepada India untuk membeli minyak Rusia selama 30 hari guna menjaga stabilitas pasokan energi global.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kebijakan tersebut hanya mengizinkan transaksi yang melibatkan minyak yang sudah berada di kapal menuju India per tanggal 5 Maret 2026, dikutip dari The Economic Times.

Bessent menegaskan langkah ini tidak dirancang untuk memberikan keuntungan finansial signifikan bagi pemerintah Rusia.

Sementara itu, Presiden Donald Trump dalam wawancara eksklusif dengan Reuters pada Jumat (6/3) menyatakan ia tidak terlalu mengkhawatirkan kenaikan harga bensin selama operasi militer masih berlangsung.

“Harga akan turun sangat cepat ketika ini selesai. Jika naik, ya naik saja. Ini jauh lebih penting daripada harga bensin naik sedikit,” kata Trump, seperti dikutip Reuters.

Dampak ke Pasar Domestik AS dan Keterbatasan Opsi Kebijakan

Dampak konflik sudah terasa langsung di tingkat konsumen AS, di mana rata-rata harga bensin nasional naik 27 sen dalam sepekan menjadi USD 3,25 per galon, menurut kelompok pengendara AAA.

Angka tersebut sekitar 15 sen lebih tinggi dibandingkan harga pada periode yang sama tahun lalu, berdasarkan data yang dilaporkan Kabarbursa.

Meski Trump tampak tenang, pejabat Gedung Putih mulai menghitung berbagai langkah untuk menahan lonjakan, termasuk kebijakan asuransi risiko bagi kapal tanker dan kemungkinan pengawalan angkatan laut di Selat Hormuz.

Sejumlah eksekutif perusahaan energi yang berbicara kepada Reuters menilai pemerintah AS memiliki pilihan terbatas untuk menurunkan harga energi secara cepat dalam kondisi konflik yang masih berlangsung.


Referensi:

Featured Image: OpenAI