Apakah kamu sudah tahu berapa total anggaran THR keluarga yang harus disiapkan sebelum Lebaran 2026 tiba?

Bagi banyak orang, momen Lebaran bukan hanya soal ibadah, tapi juga tanggung jawab finansial nyata yang sering tidak diantisipasi dengan baik sejak jauh hari.

Definisi THR Keluarga dan Siapa Saja yang Masuk Daftar Penerimanya

THR keluarga adalah bentuk pemberian uang tunai atau hadiah dari anggota keluarga yang berpenghasilan kepada kerabat yang lebih membutuhkan, sebagai bagian dari tradisi Lebaran di Indonesia.

Berbeda dengan THR dari perusahaan yang diatur oleh regulasi pemerintah, THR keluarga sepenuhnya bersifat sukarela dan ditentukan oleh kemampuan pribadi pemberi.

Namun dalam praktiknya, ada ekspektasi sosial yang cukup kuat di masyarakat Indonesia mengenai siapa saja yang layak menerima THR dari anggota keluarga yang bekerja.

Berikut adalah kategori penerima THR keluarga yang paling umum:

  • Orang tua dan mertua: kelompok paling prioritas, terutama jika sudah tidak bekerja atau berpenghasilan rendah
  • Kakek dan nenek: sering masuk daftar sebagai bentuk penghormatan dan bakti kepada generasi lebih tua
  • Adik atau kakak yang belum bekerja: terutama yang masih sekolah atau sedang mencari pekerjaan
  • Keponakan: anak-anak dari saudara kandung yang masih kecil dan belum berpenghasilan sendiri
  • Asisten rumah tangga atau supir pribadi: jika kamu memiliki staf yang membantu di rumah

Memahami siapa saja yang masuk daftar penerima adalah langkah pertama sebelum kamu bisa menghitung anggaran THR keluarga secara realistis.

Faktor yang Menentukan Nominal THR yang Pantas Diberikan

Nominal THR yang pantas tidak ditentukan oleh satu angka pasti, melainkan oleh kombinasi beberapa faktor yang bersifat personal dan kontekstual.

Faktor pertama adalah penghasilan bersih bulanan pemberi, karena ini menjadi batas atas yang tidak boleh dilampaui agar THR tidak mengganggu kebutuhan pokok keluarga inti.

Faktor kedua adalah jumlah penerima, semakin banyak anggota keluarga yang masuk daftar, semakin perlu kamu membagi anggaran secara proporsional daripada menyamakan semua nominal.

Faktor ketiga adalah kondisi ekonomi penerima, karena orang tua yang tidak memiliki penghasilan tetap tentu lebih diprioritaskan dibanding keponakan yang orang tuanya bekerja.

Faktor keempat adalah kebiasaan atau preseden tahun sebelumnya, karena sekali kamu menetapkan nominal tertentu, akan sulit menurunkannya tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

Faktor kelima adalah kebutuhan khusus penerima, misalnya orang tua yang sedang sakit atau adik yang sedang butuh biaya pendidikan tambahan.

Dengan mempertimbangkan kelima faktor ini, kamu bisa menentukan nominal yang terasa adil bagi semua pihak tanpa membebani keuanganmu sendiri.

Cara Menghitung Total Kebutuhan THR untuk Seluruh Keluarga

Menghitung total kebutuhan THR keluarga dilakukan dengan metode pemetaan penerima dan penetapan nominal per kelompok secara bertahap.

Langkah pertama adalah membuat daftar lengkap semua penerima yang kamu rencanakan, dari keluarga inti hingga asisten rumah tangga.

Langkah kedua adalah mengelompokkan penerima berdasarkan tingkat prioritas, misalnya kelompok A untuk orang tua, kelompok B untuk saudara kandung yang belum bekerja, dan kelompok C untuk keponakan kecil.

Langkah ketiga adalah menetapkan nominal per kelompok, bukan per individu, agar proses penganggaran lebih terstruktur dan konsisten.

Berikut contoh ilustrasi perhitungannya:

  • Kelompok A (orang tua + mertua = 4 orang): Rp500.000 per orang = Rp2.000.000
  • Kelompok B (adik belum bekerja = 2 orang): Rp300.000 per orang = Rp600.000
  • Kelompok C (keponakan = 5 anak): Rp100.000 per anak = Rp500.000
  • Asisten rumah tangga (1 orang): Rp500.000
  • Total kebutuhan THR: Rp3.600.000

Angka ini tentu bervariasi tergantung kondisi masing-masing keluarga, tapi metode penghitungan berbasis kelompok ini membantu kamu melihat gambaran utuh sebelum mengalokasikan dana.

Template Anggaran THR Keluarga Berbasis Persentase Penghasilan

Cara paling praktis untuk menganggarkan THR keluarga adalah dengan menetapkan persentase maksimal dari penghasilan bersih bulanan yang akan dialokasikan untuk pos ini.

Melansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengeluaran untuk kebutuhan sosial termasuk THR idealnya tidak melebihi 10% dari total penghasilan bulanan agar kondisi keuangan tetap sehat.

Berikut adalah template anggaran THR berbasis persentase yang bisa langsung kamu sesuaikan:

  • Penghasilan Rp5.000.000/bulan: Alokasi THR maksimal 10% = Rp500.000. Prioritaskan untuk orang tua atau satu kelompok penerima utama saja.
  • Penghasilan Rp8.000.000/bulan: Alokasi THR 8-10% = Rp640.000 – Rp800.000. Bisa mencakup orang tua dan beberapa keponakan dengan nominal kecil.
  • Penghasilan Rp12.000.000/bulan: Alokasi THR 8-10% = Rp960.000 – Rp1.200.000. Sudah cukup untuk mencakup seluruh anggota keluarga inti dengan nominal proporsional.
  • Penghasilan Rp20.000.000/bulan ke atas: Alokasi THR 5-10% = Rp1.000.000 – Rp2.000.000. Kamu memiliki fleksibilitas lebih untuk menaikkan nominal per kelompok.

Jika kamu menerima THR dari perusahaan, sebagian dari dana tersebut bisa langsung dialokasikan untuk pos THR keluarga tanpa mengganggu penghasilan rutin bulanan.

Yang penting, tentukan angka persentase ini sebelum Lebaran tiba, bukan secara spontan saat momentum sudah mendekat, karena keputusan finansial impulsif selalu lebih mahal dari yang direncanakan.

Cara Menyiasati THR Keluarga Jika Penghasilan Terbatas

Penghasilan terbatas bukan alasan untuk tidak memberikan THR, tapi menjadi alasan kuat untuk memberikannya dengan cara yang lebih strategis dan bermakna.

Strategi pertama adalah berkomunikasi terbuka dengan keluarga: banyak konflik finansial di momen Lebaran terjadi bukan karena nominalnya, tapi karena ekspektasi yang tidak dikelola.

Strategi kedua adalah menggabungkan THR dengan hadiah non-tunai, misalnya memberikan bingkisan sembako atau kebutuhan rumah tangga kepada orang tua, yang sering kali lebih berdampak dari uang tunai dengan nominal kecil.

Strategi ketiga adalah menabung THR sejak jauh hari: jika kamu menyisihkan Rp200.000 per bulan sejak bulan Oktober, maka pada bulan Maret kamu sudah memiliki Rp1.000.000 khusus untuk pos THR keluarga tanpa terasa berat.

Menurut Sikapi Uangmu OJK, kebiasaan menabung untuk pengeluaran musiman seperti Lebaran adalah salah satu indikator literasi keuangan yang baik dan dapat mencegah utang konsumtif pasca-Lebaran.

Strategi keempat adalah memprioritaskan berdasarkan kebutuhan nyata: jika anggaran sangat terbatas, fokuslah pada orang tua yang tidak berpenghasilan dan lewati daftar penerima lain dengan penjelasan yang tulus.

Strategi kelima adalah memanfaatkan THR dari kantor secara terencana: sisihkan minimal 20-30% dari THR yang kamu terima dari perusahaan khusus untuk pos THR keluarga, dan jangan campurkan dengan dana belanja Lebaran lainnya.

Kuncinya adalah kejelasan alokasi sejak awal, karena anggaran yang tidak direncanakan akan selalu terasa kurang meskipun nominalnya sebenarnya cukup.

Kesimpulan

Merencanakan anggaran THR keluarga lebaran bukan soal seberapa besar yang bisa kamu berikan, tapi seberapa baik kamu mengelola apa yang tersedia agar semua pihak merasa dihargai tanpa mengorbankan stabilitas keuanganmu sendiri.

Mulai sekarang, buat daftar penerimamu, tetapkan persentase anggaran dari penghasilan bersih, dan mulai sisihkan dana THR jauh sebelum Lebaran 2026 tiba agar kamu tidak kelabakan di menit terakhir.

FAQ: Anggaran THR Keluarga Lebaran 2026

Apakah ada aturan baku berapa THR yang harus diberikan ke orang tua?

Tidak ada aturan baku untuk THR keluarga karena sifatnya sukarela, namun sebagai panduan umum, nominal untuk orang tua idealnya lebih besar dari kelompok penerima lainnya dan disesuaikan dengan kemampuan finansialmu.

Bolehkah THR keluarga diberikan dalam bentuk selain uang tunai?

Boleh, dan ini justru bisa menjadi pilihan yang lebih bijak saat anggaran terbatas karena bingkisan sembako, paket kebutuhan rumah tangga, atau bahkan voucher belanja tetap memiliki nilai yang setara dan sering kali lebih dibutuhkan.

Bagaimana cara menolak permintaan THR dari keluarga jika kondisi keuangan sedang sulit?

Komunikasikan kondisimu secara jujur dan langsung tanpa dramatisasi, tawarkan alternatif non-tunai jika memungkinkan, dan jika memang tidak bisa memberikan apapun, sampaikan dengan niat yang tulus karena hubungan keluarga yang sehat lebih dari sekadar nominal uang.