Mandiri Finansial – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memukul pasar keuangan global pada awal Maret 2026, dengan Wall Street ditutup merah dan rupiah tertekan ke level Rp16.934 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 29 poin atau 0,17% ke level Rp16.934 per dolar AS pada Rabu (4/3).
Analis Doo Financial Lukman Leong memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp16.850–17.000 per dolar AS akibat memanasnya situasi di Timur Tengah.
Key Takeaways:
- Kapal perang Iran IRIS Dena tenggelam diduga akibat torpedo kapal selam AS, disusul serangan balasan rudal Iran ke kapal tanker AS di Teluk Persia.
- Dow Jones sempat rontok lebih dari 1.100 poin sebelum ditutup turun 784 poin atau 1,6%, sementara harga minyak WTI melonjak 8,5% ke USD81,01 per barel.
- IMF memperingatkan konflik ini berpotensi menekan harga energi global, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi jika berlangsung berkepanjangan.
Pemicu utama tekanan pasar adalah insiden tenggelamnya kapal perang Iran IRIS Dena, yang diduga akibat torpedo dari kapal selam militer AS di Samudra Hindia.
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merespons dengan meluncurkan serangan rudal ke kapal tanker AS di utara Teluk Persia, menyebabkan kapal tersebut terbakar.
Wall Street Tertekan Dua Sentimen Sekaligus
Di pasar saham AS, indeks S&P 500 turun 0,6% ke posisi 6.829,45 pada penutupan Kamis (5/3), menghapus keuntungan tipis yang terbentuk sepanjang tahun ini.
Dow Jones Industrial Average merosot 784,67 poin atau 1,6% ke level 47.954,19, setelah sempat terperosok lebih dari 1.100 poin dalam sesi perdagangan.
Nasdaq Composite ikut terkoreksi 0,3% ke level 22.748,99, sebagian dipicu laporan bahwa pemerintahan Trump menyusun aturan pembatasan pengiriman chip AI ke seluruh dunia.
Kepala strategi pasar Jones Trading, Michael O’Rourke, menyebut pasar berada di bawah tekanan karena harga minyak mulai mendekati USD80 dan suasana penghindaran risiko berlanjut sepanjang sesi pagi.
Harga minyak mentah acuan AS (WTI) melonjak 8,5% dan menetap di kisaran USD81,01 per barel, sementara minyak Brent menguat 4,9% ke USD85,41 per barel.
Risiko Ekonomi Global Mulai Diperhitungkan
Iran juga melancarkan gelombang rudal ke Israel pada hari keenam berturut-turut, menurut laporan Reuters, mengurangi harapan pasar bahwa konflik akan segera berakhir.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan konflik ini menguji ketahanan ekonomi global dan berpotensi memengaruhi harga energi, sentimen pasar, serta inflasi jika berlangsung lama.
Sejumlah analis memperingatkan situasi bisa jauh lebih kompleks apabila harga minyak menembus USD100 per barel dan bertahan di level tersebut dalam jangka panjang.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilintasi sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya.
Senior Global Market Strategist Wells Fargo Investment Institute, Scott Wren, menilai kemungkinan yang lebih besar saat ini adalah sikap hati-hati investor yang bersifat sementara, setidaknya hingga muncul tanda-tanda konflik mulai mereda.
Referensi:
- Katadata, Rupiah Kembali Dibuka Melemah di TengahMemanasnya Eskalasi Perang Israel – Iran. Diakses pada 6 Maret 2026.
- MetroTV, Wall Street Ambruk Imbas Meningkatnya Konflik AS-Iran. Diakses pada 6 Maret 2026.
- Kabar Bursa, Dow Jones Sempat Rontok 1.100 Poin saat Konflik Timur Tengah Memanas. Diakses pada 6 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
