Mandiri Finansial – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Kamis (5/3), dipicu oleh meluasnya konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang menghentikan lalu lintas energi di Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 8,51% atau USD 6,35 ke level USD 81,01 per barel, level tertinggi sejak Juli 2024.
Key Takeaways:
- WTI melonjak 8,51% ke USD 81,01 per barel, kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020.
- Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terhenti total, memotong sekitar 20% pasokan minyak global.
- Irak menghentikan produksi hampir 1,5 juta barel per hari akibat kelebihan kapasitas penyimpanan.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent ditutup naik 4,93% atau USD 4,01 menjadi USD 85,41 per barel, menandai penguatan selama lima hari berturut-turut.
Mengutip Bloomberg, harga WTI telah melonjak sekitar 19 hingga 21% sepanjang pekan ini, menjadikannya kenaikan mingguan terbesar sejak 2022.
Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
Garda Revolusi Iran memerintahkan penutupan Selat Hormuz sejak awal pekan ini dan mengancam akan menyerang kapal tanker yang melintas, menurut laporan CNBC yang dikutip Liputan6.
Sekitar 20% konsumsi minyak global diekspor melalui selat tersebut, sehingga hambatan ini langsung menekan pasokan energi dunia secara signifikan.
Mengutip Liputan6, Angkatan Laut Inggris pada Kamis (5/3) melaporkan sebuah ledakan besar di kapal tanker yang berlabuh di perairan teritorial Irak, sementara kapten kapal melihat kapal kecil melarikan diri dari lokasi kejadian.
Iran juga mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker minyak dengan rudal, menurut laporan media pemerintah Iran yang dikutip CNBC.
Produsen Mulai Hentikan Produksi
Irak dilaporkan menghentikan produksi hampir 1,5 juta barel minyak per hari karena kehabisan kapasitas penyimpanan akibat tidak adanya kapal tanker yang dapat mengangkut minyak keluar, menurut laporan Kompas.
Qatar turut menghentikan produksi gas alam cair (LNG) karena kapal tanker tidak dapat melintasi Selat Hormuz.
Analis dari Again Capital, John Kilduff, memperingatkan bahwa proses pemulihan produksi tidak akan dapat langsung berjalan pada kapasitas penuh setelah dihentikan.
Mengutip Kompas, Kilduff menyatakan, “Tidak ada pergerakan di Selat Hormuz sehingga harga kemungkinan akan terus naik. Jika negara-negara harus menghentikan produksi, maka pemulihan produksi nantinya tidak akan bisa langsung terjadi.”
Analis juga memperkirakan Kuwait dan Uni Emirat Arab berpotensi mengambil langkah serupa jika kapasitas penyimpanan mereka semakin terbatas, menurut laporan Kompas.
Mengutip Bloomberg, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan kepada NBC News bahwa negaranya tidak meminta gencatan senjata dan tidak memiliki niat untuk bernegosiasi, sementara Israel terus meluncurkan serangan udara ke Teheran.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal akan adanya tindakan segera untuk meredam tekanan harga, termasuk opsi pengawalan angkatan laut untuk kapal tanker dan asuransi risiko politik, namun Gedung Putih belum menetapkan jadwal pasti kapan Selat Hormuz aman kembali untuk pelayaran komersial.
Referensi:
- Kompas, Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 8 Persen di Tengah Meluasnya Konflik Timur Tengah. Diakses pada 6 Maret 2026.
- Liputan6, Harga Minyak Melonjak Tajam, Ini Gara-garanya. Diakses pada 6 Maret 2026.
- Bloomberg Technoz, Harga Minyak Menuju Lonjakan Mingguan Terbesar Sejak 2022. Diakses pada 6 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
