Mandiri Finansial – Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih berada di kawasan Teluk Persia menyusul penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.


Key Takeaways:

  • Dua kapal Pertamina (Pertamina Pride dan Gamsunoro) masih terjebak di area Teluk Persia, dengan keselamatan kru sebagai prioritas utama.
  • Pertamina memasok 19% minyak mentahnya dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, sementara pemerintah menyebut angka 25% dari total crude nasional.
  • Pemerintah menyiapkan impor minyak dari Amerika Serikat sebagai alternatif, dengan komitmen pembelian energi senilai 15 miliar dolar AS.

VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, membenarkan kondisi tersebut pada Rabu (4/3/2026) di Graha Pertamina, Jakarta.

Dari empat kapal PIS yang berada di kawasan Timur Tengah, dua di antaranya masih tertahan di dalam area teluk, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Kapal Pertamina Pride telah selesai proses loading dan saat ini berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi, sementara Gamsunoro masih dalam proses loading di Pelabuhan Khor al Zubair, Irak.

Dua kapal lainnya berada di luar kawasan paling rawan, yakni PIS Rinjani yang berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, dan PIS Paragon yang sedang discharge di Oman.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan pihaknya terus memantau situasi secara real time selama 24 jam penuh dan berkoordinasi dengan Ship Management serta otoritas maritim setempat.

PIS juga memiliki kantor cabang di Dubai bernama PIS Middle East, dengan 30 pekerja beserta keluarga yang saat ini dipastikan dalam kondisi aman dan mengikuti imbauan KBRI setempat.

Baron menyebut sekitar 19% pasokan minyak mentah Pertamina berasal dari Timur Tengah melalui jalur Selat Hormuz, namun perusahaan telah menyiapkan sistem distribusi reguler, alternatif, dan emergensi.

Baron juga memastikan stok BBM untuk Ramadan dan Idul Fitri telah disiapkan sebelum insiden ini terjadi, dan meminta masyarakat untuk tetap tenang.

Pemerintah Alihkan Impor ke Amerika Serikat

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah telah menemukan sumber crude alternatif apabila kapal-kapal Pertamina tidak dapat segera keluar dari Selat Hormuz.

Menurut Bahlil, sekitar 25% kebutuhan minyak nasional selama ini dipasok dari kawasan Timur Tengah, dan jumlah tersebut akan dialihkan ke Amerika Serikat.

Rencana pengalihan impor ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia-AS, dengan komitmen pembelian produk energi senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp253 triliun.

Bahlil juga mengakui bahwa pemerintah belum dapat memastikan kapan konflik di Selat Hormuz akan berakhir, dengan perkiraan yang bervariasi antara 5 hari hingga 4 minggu.

Di sisi harga, Baron menyampaikan Pertamina masih memantau perkembangan harga minyak mentah global yang berpotensi berdampak pada harga BBM nonsubsidi, namun belum dapat memberikan angka pasti untuk penyesuaian pada April 2026.


Referensi:

Featured Image: OpenAI