Mandiri Finansial – Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada Sabtu (28/2/2026) akibat eskalasi konflik melawan Israel dan Amerika Serikat mulai menekan kalkulasi fiskal Indonesia secara nyata.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memperkirakan harga minyak berpotensi tembus USD 100-120 per barel imbas konflik ini.


Key Takeaways:

  • Selat Hormuz resmi ditutup Iran sejak 28 Februari 2026, mengancam sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 45% ekspor urea global.
  • Potensi tambahan beban APBN untuk menahan harga BBM agar tidak naik diperkirakan mencapai Rp 515 triliun menurut Celios.
  • Pasokan urea Indonesia diklaim aman karena sumber impor terdiversifikasi ke Kanada, Tiongkok, dan Rusia.

Indonesia sebagai negara net importir minyak akan merasakan dampak langsung dari lonjakan harga tersebut.

Bhima menyebut, jika pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM dalam negeri, selisih harga pasar dan harga jual harus ditutup lewat subsidi tambahan yang bisa mencapai Rp 515 triliun.

Angka itu jauh melampaui alokasi subsidi BBM, listrik, dan LPG 3 kg yang sudah ditetapkan di RAPBN 2026 sebesar Rp 210 triliun.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menilai pemerintah hampir pasti perlu merevisi asumsi harga minyak dalam APBN 2026 jika konflik terus berlanjut.

Tekanan Berlapis ke Ekonomi Domestik

Menurut Esther, kenaikan harga minyak akan menyebar ke ekonomi domestik melalui empat jalur utama yaitu nilai tukar, inflasi, sektor riil, dan persepsi pasar.

Dari sisi inflasi, kenaikan harga minyak berpotensi mendorong bank sentral menaikkan suku bunga acuan yang akan membuat kredit lebih mahal dan investasi melambat.

Esther juga memperingatkan bahwa rute logistik yang lebih panjang akibat penutupan Selat Hormuz akan langsung mengerek biaya pengiriman dan tarif penerbangan.

Bhima menambahkan, kombinasi imported inflation dan pelemahan kurs rupiah bisa menjadi tekanan berat terhadap daya beli masyarakat jika harga BBM ikut dinaikkan.

Pasokan Urea Diklaim Aman, Tapi Harga Bahan Baku Tetap Terancam

Di sisi pertanian, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pasokan urea Indonesia tidak terganggu meskipun Selat Hormuz ditutup.

Amran menyebut impor pupuk pada Januari-Februari 2026 bahkan naik 40% karena Indonesia tidak hanya bergantung pada negara-negara Teluk.

Sumber impor pupuk Indonesia saat ini bertumpu pada Kanada, Tiongkok, dan Rusia yang jalur distribusinya tidak melewati Selat Hormuz.

Meski demikian, Amran mengakui bahwa harga bahan baku pupuk hampir pasti akan naik seiring memburuknya kondisi geopolitik global.

Rabobank dalam laporannya memperkirakan sekitar 45% pasokan urea dunia berasal dari negara-negara Teluk yang jalur ekspornya melewati Selat Hormuz.

Rabobank menyebut dampak penutupan selat ini terhadap pasar pupuk global bisa sangat parah, dengan kompleks nitrogen dan urea menanggung beban terberat.


Referensi:

Featured Image: OpenAI