Mandiri Finansial – Lalu lintas tanker di Selat Hormuz terhenti secara efektif setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran, memicu lonjakan harga energi global yang signifikan pada awal pekan ini.


Key Takeaways:

  • Harga solar berjangka melonjak hingga 17% ke level tertinggi dalam dua tahun, melampaui kenaikan minyak Brent sebesar 13%.
  • Analis JPMorgan memperkirakan produsen minyak Timur Tengah hanya mampu bertahan maksimal 25 hari sebelum terpaksa menghentikan produksi.
  • Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, serta 10% perdagangan solar global, melewati Selat Hormuz setiap harinya.

Harga solar berjangka di Intercontinental Exchange melonjak hingga 17% ke level tertinggi dalam dua tahun pada pembukaan pasar Senin, mengungguli kenaikan harga minyak Brent yang mencapai 13%, menurut laporan Bloomberg.

Lonjakan ini terjadi karena pemilik kapal tanker secara sukarela menghentikan operasional mereka melewati Selat Hormuz, meski belum ada penutupan resmi dari pihak manapun.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, menjadikannya titik paling krusial dalam rantai distribusi energi global.

Menurut data perusahaan pelacakan kapal Kpler, sekitar 10% perdagangan solar dunia dan 20% bahan bakar jet global melewati selat tersebut setiap harinya.

Produksi Timur Tengah Terancam Berhenti dalam 25 Hari

Analis JPMorgan Chase, termasuk Natasha Kaneva, memperingatkan bahwa produsen minyak di kawasan Timur Tengah kemungkinan hanya dapat mempertahankan produksi selama tidak lebih dari 25 hari jika Selat Hormuz ditutup sepenuhnya.

Menurut catatan analis JPMorgan yang dikutip Bloomberg, keterbatasan kapasitas penyimpanan akan memaksa penghentian produksi setelah batas waktu tersebut terlampaui.

Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait tidak hanya mengekspor minyak mentah, tetapi juga mengoperasikan kilang modern yang memproduksi solar, bahan bakar jet, dan petrokimia, menurut laporan Bloomberg.

Iran, yang menjadi salah satu sumber bahan bakar minyak terbesar di dunia, turut terdampak langsung dari situasi ini sebagai pihak yang menjadi target serangan.

Risiko Meluas ke Rantai Pasok Pangan Global

Dampak dari ketegangan di Selat Hormuz tidak berhenti pada sektor energi semata, melainkan mulai merambat ke komoditas strategis lain yang terhubung langsung dengan pangan global.

Menurut laporan Kabar Bursa, eskalasi ini mendorong risiko harga minyak ke kisaran USD 90 hingga USD 100 per barel, sekaligus menekan rantai pasok urea dan ammonia di tingkat global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kepada New York Times bahwa operasi militer tersebut bisa berlangsung selama empat atau lima minggu, sebuah rentang waktu yang jauh melampaui batas ketahanan produksi yang diperkirakan JPMorgan.

Kondisi ini menempatkan pasar energi global dalam posisi siaga tinggi, dengan arah berikutnya sangat bergantung pada perkembangan negosiasi diplomatik atau eskalasi militer lanjutan di kawasan Timur Tengah.


Referensi:

Featured Image: OpenAI