Mandiri Finansial – Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada pembukaan pekan ini, sekaligus menekan aset berisiko termasuk Bitcoin ke zona merah.
Key Takeaways:
- Harga minyak Brent naik 13% ke level $80 per barel pasca serangan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2).
- Bitcoin turun 2,32% ke $66.215 dalam 24 jam, dengan open interest kripto melemah 5,26%.
- Dalam jangka menengah, Bitcoin berpotensi dilirik sebagai lindung nilai jika inflasi terus meningkat.
Harga minyak Brent di pasar Asia pada Senin (2/3/2026) dibuka di level $80 per barel, naik dari posisi penutupan $72,87 per barel pada Jumat (27/2/2026).
Kenaikan tersebut setara dengan 13% hanya dalam satu akhir pekan, dipicu langsung oleh serangan Israel yang didukung AS ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat kenaikan sekitar 7,3%, diperdagangkan di sekitar $72 per barel dari posisi $67 per barel pada Jumat, berdasarkan data dari grup CME.
Bitcoin Ikuti Tekanan Pasar Global
Lonjakan harga minyak turut menyeret pasar kripto ke dalam tekanan jual yang meluas di awal Maret 2026 ini.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyebut bahwa Bitcoin dalam 24 jam terakhir turun sekitar 2,32% ke level $66.215, sejalan dengan pelemahan total kapitalisasi pasar kripto sebesar 2,26%.
Menurut Calvin, pelemahan ini bukan dipicu likuidasi masif, melainkan minimnya minat beli yang cukup kuat untuk menahan tekanan jual di tengah sentimen makro yang negatif.
Data dari Tokocrypto mencatat open interest turun sekitar 5,26%, sementara volume perdagangan spot melemah lebih dari 13% dalam periode yang sama.
Korelasi Bitcoin terhadap indeks saham AS S&P 500 dalam tujuh hari terakhir berada di kisaran 78%, yang berarti tekanan di pasar ekuitas berpotensi langsung merembet ke aset kripto.
Skenario Jangka Menengah Bisa Berbeda
Calvin menekankan bahwa dinamika pasar kripto dalam jangka menengah berpotensi bergerak ke arah yang berbeda dari tekanan jangka pendek saat ini.
Jika inflasi melonjak dan kepercayaan terhadap sistem keuangan tradisional mulai terguncang, sebagian investor bisa mulai melihat Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan dan risiko mata uang, menurut Calvin.
Lonjakan harga minyak yang berkepanjangan dianggap sebagai risiko nyata terhadap stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi global, sehingga arah kebijakan bank sentral ke depan menjadi faktor penentu berikutnya yang perlu dicermati pasar.
Referensi:
- Kompas, Harga Minyak Naik Imbas Perang Iran-Israel, Bitcoin Terseret atau Jadi Pelarian Baru Investor?. Diakses pada 2 Maret 2026.
- Bloomberg Technoz, Iran Vs AS-Israel yang Memanas Bakal Menekan Harga Aset Kripto. Diakses pada 2 Maret 2026.
- infobanknews, Saham-saham Ini Berpotensi Cuan di Tengah Memanasnya Perang Iran-AS. Diakses pada 2 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
