Mandiri Finansial – Eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat ke Iran mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global pada Senin (2/3), menekan nilai tukar rupiah dan aset berisiko di seluruh kawasan Asia.
Rupiah melemah 0,27% ke level 16.823 per dolar AS pada sesi perdagangan pagi hari tersebut, mengikuti tekanan yang dialami mayoritas mata uang Asia.
Key Takeaways:
- Rupiah melemah ke 16.823 per dolar AS, BI siap intervensi lewat transaksi NDF, spot, dan DNDF.
- Indeks mata uang negara berkembang turun 0,5% untuk sesi kedua berturut-turut, saham pasar berkembang turun hingga 1%.
- Harga minyak Brent sempat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun, dengan potensi naik ke USD 108 per barel jika Selat Hormuz ditutup.
Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamentalnya.
Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, intervensi akan dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Mengutip data dari Kumparan dan Bloomberg, indeks mata uang negara berkembang turun 0,5% untuk sesi kedua berturut-turut seiring menguatnya dolar AS.
Peso Filipina dan dolar Taiwan mencatat penurunan terbesar di antara mata uang kawasan, sementara pasar Korea Selatan tutup karena hari libur nasional.
Saham pasar negara berkembang juga merosot hingga 1%, menjadi penurunan terbesar dalam lebih dari dua minggu terakhir.
Tekanan Meluas ke Berbagai Sektor
Ketegangan geopolitik yang meningkat telah mengganggu berbagai sektor mulai dari minyak dan perkapalan hingga perjalanan udara, menurut laporan Kumparan mengutip Bloomberg.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun sebelum akhirnya terkoreksi turun.
Bloomberg Economics memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi mendorong harga minyak hingga USD 108 per barel apabila Selat Hormuz ditutup.
Brendan McKenna, ahli strategi pasar negara berkembang di Wells Fargo, menyebut situasi ini sebagai guncangan yang memperlemah pasar berkembang secara signifikan.
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak seperti Korea Selatan, Taiwan, India, Filipina, dan Thailand berpotensi mengalami tekanan nilai tukar lebih lanjut, menurut ahli strategi Oversea-Chinese Banking Corp, Sim Moh Siong dan Christopher Wong.
Pemerintah Indonesia Imbau Tunda Umrah
Di sisi domestik, Kementerian Haji dan Umrah resmi mengimbau masyarakat untuk menunda keberangkatan umrah dalam waktu dekat.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Danhil Anzar Simanjuntak menyatakan imbauan ini dikeluarkan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan di tengah kondisi Timur Tengah yang dinilai semakin tidak menentu, dikutip dari Bloomberg Technoz, Senin (2/3).
Danhil menyebut pihaknya bersama Kementerian Luar Negeri terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, dan penyelenggara perjalanan ibadah umrah untuk memastikan jemaah yang tertunda kepulangannya dapat tertampung di tempat yang aman dan layak.
Referensi:
- Bloomberg Technoz, Panas Iran-Israel, Kementerian Haji Imbau Masyarakat Tunda Umrah. Diakses pada 2 Maret 2026.
- Katadata, BI Pantau Dampak Perang Iran, Janji Jaga Rupiah Sesuai Fundamental. Diakses pada 2 Maret 2026.
- Kumparan, Mata Uang-Saham Pasar Negara Berkembang Turun Akibat Kekhawatiran Konflik Iran. Diakses pada 2 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
