Mandiri Finansial – IHSG dibuka anjlok 1,73% ke level 8.092 pada Senin (2/3), setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara dan laut ke Iran pada Sabtu (28/2).

Secara intraday, IHSG bahkan sempat rontok 2,32% ke level 8.044 pada pukul 09:18 WIB, menurut data yang dikutip Katadata.


Key Takeaways:

  • Eskalasi konflik AS-Israel vs Iran memicu gelombang jual di sembilan dari sebelas sektor BEI.
  • Sektor energi dan emas berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas akibat konflik ini.
  • Data ekonomi domestik pekan ini, termasuk inflasi Februari dan neraca perdagangan, menjadi faktor penentu arah pemulihan IHSG.

Sebanyak 622 emiten tercatat di zona merah, sementara kapitalisasi pasar BEI ambruk ke Rp14.570 triliun, berdasarkan data Katadata per Senin (2/3).

Tekanan juga menjalar ke pasar valuta asing, dengan rupiah melemah 28 poin atau 0,17% ke level Rp16.787 per dolar AS pada pukul 08:57 WIB, menurut data Bloomberg yang dikutip Kumparan.

Secara mingguan, IHSG sudah terkoreksi 3,29%, mencerminkan tekanan yang berlangsung sebelum sentimen geopolitik terbaru ini muncul.

Sektor Energi Jadi Pengecualian di Tengah Tekanan Luas

Dari sebelas sektor di BEI, hanya sektor energi yang menguat signifikan sebesar 1,75%, diikuti sektor bahan baku yang naik 0,50%, berdasarkan data Katadata.

Menurut analisis Phintraco Sekuritas, konflik AS-Iran berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan emas karena investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Phintraco Sekuritas juga memperingatkan bahwa jika IHSG menembus level 8.100, indeks berpeluang menguji zona 7.800 hingga 8.000.

Faktor Domestik Penentu Arah Selanjutnya

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik meminta investor tetap rasional dan memperhatikan fundamental dalam menghadapi volatilitas ini.

Jeffrey menambahkan bahwa setiap keputusan investasi perlu disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing investor, seperti dikutip Kumparan pada Senin (2/3).

Pasar domestik pekan ini menantikan rilis S&P Global Manufacturing PMI Indonesia, neraca perdagangan Januari 2026, inflasi Februari 2026, dan cadangan devisa Februari, berdasarkan data Katadata.

Penurunan tarif dagang dengan AS dari 19% menjadi 15% juga disebut Phintraco Sekuritas sebagai potensi sentimen positif bagi sektor berbasis ekspor yang dapat menjadi penyeimbang tekanan eksternal.


Referensi:

Featured Image: OpenAI