Harga emas batangan Antam turun tipis pada Senin (16/3) di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah yang masih berlanjut.


Key Takeaways:

  • Emas Antam 1 gram turun Rp 5.000 ke Rp 2.992.000, sementara Galeri24 dan UBS stabil.
  • Harga emas dunia masih bertahan di kisaran USD 5.000 per ounce di tengah ketidakpastian perang AS-Israel-Iran.
  • Analis melihat emas tetap punya prospek jangka panjang karena kekhawatiran stagflasi dan pelemahan kepercayaan terhadap dolar AS.

Berdasarkan data dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam ukuran 1 gram tercatat di level Rp 2.992.000 per gram pada Senin (16/3).

Harga tersebut turun Rp 5.000 dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp 2.997.000 per gram.

Harga buyback emas Antam juga ikut terkoreksi Rp 5.000 menjadi Rp 2.744.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.749.000 per gram.

Sementara itu, emas Galeri24 di Pegadaian terpantau stabil di Rp 3.012.000 per gram dan emas UBS tidak berubah di angka Rp 3.026.000 per gram.

Adapun harga emas EMASKU dari PT Hartadinata Abadi Tbk berada di level Rp 2.803.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.665.000 per gram, dikutip dari Kompas.com.

Emas Dunia Masih Fluktuatif, Faktor Perang Jadi Penentu

Mengutip Yahoo Finance via Liputan6.com, harga emas batangan di pasar global diperdagangkan sekitar USD 5.000 per ounce, turun hingga 1% sebelum mengurangi koreksi pada awal pekan ini.

Harga emas di pasar spot naik tipis 0,1% ke USD 5.022,02 per ounce pada pukul 08.55 waktu Singapura, Senin (16/3).

Pelemahan ini terjadi di tengah konflik AS-Israel dengan Iran yang memasuki minggu ketiga dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui seperlima minyak dan gas alam cair dunia, dilaporkan hampir terhenti sejak eskalasi konflik berlangsung.

Pelaku pasar saat ini hampir tidak melihat peluang penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan ini, menurut data yang dikutip Liputan6.com.

Prospek Jangka Panjang Masih Didukung Faktor Fundamental

Analis Capital.com Kyle Rodda menyebut pergerakan jangka pendek emas bersifat mekanis karena merespons pergerakan dolar dan prospek suku bunga, dikutip dari Liputan6.com.

Namun Rodda menilai perang dapat mendukung harga emas dalam jangka panjang karena mengikis kepercayaan terhadap AS di antara mitra dan sekutu.

Kekhawatiran stagflasi, yakni kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi tinggi, juga dinilai bisa mendorong investor kembali ke emas sebagai penyimpan nilai.

Meski momentum kenaikan sempat terhenti sejak perang dimulai, emas masih mencatatkan kenaikan sekitar 16% sepanjang tahun ini berdasarkan data yang dikutip dari Liputan6.com.


Referensi:

Featured Image: OpenAI