Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa rencana kunjungannya ke Beijing pada akhir Maret berpotensi ditunda jika China tidak turut membantu membuka kembali Selat Hormuz yang kini secara efektif tertutup bagi kapal tanker minyak.
Key Takeaways:
- Trump mengancam tunda pertemuan dengan Xi Jinping yang dijadwalkan 31 Maret–2 April jika China tidak ambil peran di Selat Hormuz.
- Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur energi paling kritis di dunia.
- Analis menilai tekanan Trump lebih bersifat gertakan diplomatik karena China sudah memiliki cadangan minyak strategis sekitar 1,2 miliar barel.
Dalam wawancara dengan Financial Times yang dipublikasikan Minggu (15/3/2026), Trump menyebut China memperoleh sekitar 90% minyaknya dari jalur Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan Trump di atas pesawat kepresidenan Air Force One kepada sejumlah wartawan.
“Mengapa kami yang menjaga Selat Hormuz, padahal sebenarnya itu untuk China dan banyak negara lain?” kata Trump, seperti dikutip Bloomberg, Senin (16/3/2026).
Trump menambahkan bahwa Beijing seharusnya membantu mengamankan koridor tersebut karena ketergantungan energinya yang besar terhadap jalur ini.
Pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Presiden China Xi Jinping sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April di Beijing.
“Kami mungkin menundanya,” kata Trump kepada Financial Times, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut soal kemungkinan waktu penundaan tersebut, dikutip dari CNBC, Senin (16/3/2026).
Tekanan ke NATO dan Sekutu
Selain China, Trump juga memperingatkan NATO bahwa masa depan yang “sangat buruk” menanti jika negara-negara sekutu tidak ikut membantu membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Trump menyebut negara seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris seharusnya mengirim kapal ke kawasan Selat Hormuz.
Bantuan yang diminta mencakup kapal penyapu ranjau hingga berbagai aset militer lain untuk menghadapi ancaman drone dan ranjau laut dari Iran.
Trump juga mengkritik respons Inggris setelah berbicara dengan Perdana Menteri Keir Starmer, menyebut London baru menawarkan kapal setelah AS terlebih dahulu melemahkan kemampuan militer Iran.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel lebih dari dua pekan lalu.
China Dinilai Tidak Akan Mudah Ikuti Permintaan AS
Di sisi lain, sejumlah analis menilai China kemungkinan tidak akan mengikuti permintaan Washington untuk mengirim kapal militer ke kawasan Selat Hormuz.
Peneliti senior di Council on Foreign Relations, Edward Fishman, menyebut pernyataan Trump lebih merupakan strategi tekanan diplomatik atau gertakan semata.
Menurut Fishman, China selama dua dekade terakhir telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap jalur energi tertentu dengan mendiversifikasi sumber dan membangun cadangan strategis.
Hingga Januari lalu, China diperkirakan memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel, yang cukup memenuhi kebutuhan energi selama tiga hingga empat bulan.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng telah memulai perundingan di Paris pada Minggu sebagai bagian dari upaya membuka jalan bagi kunjungan Trump ke Beijing.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari Reuters terkait pernyataan tersebut.
Referensi:
- Liputan6, Trump Tekan China Bantu Buka Selat Hormuz, Pertemuan di Beijing Terancam Ditunda. Diakses pada 16 Maret 2026.
- Bloomberg Technoz, Trump Tuntut 7 Negara Bantu Buka Blokade Selat Hormuz. Diakses pada 16 Maret 2026.
- Liputan6, Trump Tekan NATO dan China Bantu Amankan Selat Hormuz, Ancam Tunda Pertemuan dengan Xi Jinping. Diakses pada 16 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
