Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.017 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026), sebelum ditutup melemah di posisi Rp16.949 per dolar AS.

Penutupan tersebut turun 24 poin atau 0,14% dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.925, menurut laporan Tirto.id.


Key Takeaways:

  • Harga minyak dunia mendekati atau melampaui 100 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang mematok 70 dolar AS per barel.
  • Defisit APBN terancam mendekati 4% PDB jika harga minyak bertahan tinggi, melampaui batas legal 3%.
  • Pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga BBM, elpiji, dan barang kebutuhan sehari-hari.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai pelemahan ini berpotensi langsung memengaruhi biaya hidup masyarakat.

Menurut Bhima, risiko paling dekat adalah kenaikan harga BBM dan elpiji karena Indonesia merupakan net importir minyak mentah.

“Paling dekat ada risiko harga BBM dan elpiji naik. Dua produk itu sensitif ke pelemahan kurs karena impornya besar,” kata Bhima kepada Kompas.com, Senin (9/3/2026).

Kenaikan harga BBM diperkirakan akan berimbas pada naiknya biaya distribusi dan produksi, yang pada akhirnya mendorong harga barang kebutuhan sehari-hari.

Tekanan dari Dua Arah

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh faktor internal dan eksternal secara bersamaan.

Dari sisi domestik, harga minyak dunia telah menyentuh 92 dolar AS per barel, atau level tertinggi sejak 2020, jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

Ibrahim memperingatkan bahwa jika harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel, defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%, melampaui batas yang diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama lonjakan harga energi global.

Serangan udara terhadap fasilitas minyak Iran dan serangan rudal balasan dari Teheran, serta gangguan di jalur pelayaran Selat Hormuz yang menanggung sekitar 20% pasokan minyak dunia, memperburuk prospek pasokan energi global.

Risiko Fiskal dan Sinyal dari Lembaga Rating

Bhima menambahkan bahwa kondisi fiskal Indonesia turut menjadi tekanan tambahan bagi rupiah.

Pelebaran defisit APBN hingga empat kali lipat dibandingkan posisi Februari 2025 serta melemahnya penerimaan pajak dinilai memperburuk persepsi pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Moody’s dan Fitch Ratings juga telah menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, sementara S&P turut memberikan peringatan terkait situasi fiskal nasional.

Selain potensi kenaikan harga barang, Bhima memperingatkan risiko PHK massal jika pelaku usaha mengambil langkah efisiensi untuk menekan kenaikan biaya produksi akibat pelemahan kurs.

Ibrahim menyarankan pemerintah untuk segera melakukan efisiensi anggaran, mempercepat konversi energi ke sumber terbarukan, serta melakukan deregulasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.


Referensi:

Featured Image: OpenAI