Mandiri Finansial – Harga minyak mentah jenis Brent menembus US$118 per barel pada Senin (9/3), level tertinggi sejak Juni 2022, dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Kenaikan ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang dipatok di angka US$70 per barel.


Key Takeaways:

  • Harga minyak Brent melonjak lebih dari 30% dalam sepekan ke US$118 per barel, melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70.
  • Pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi dan akan mengevaluasi dampak fiskal dalam satu bulan ke depan.
  • Defisit APBN berpotensi melampaui 3,6% dari PDB jika harga minyak bertahan tinggi disertai pelemahan rupiah di atas Rp17.000.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN masih memiliki kapasitas untuk menyerap guncangan harga energi global saat ini.

Menurut Purbaya, pemerintah belum akan menaikkan harga BBM bersubsidi karena perhitungan dampak fiskal didasarkan pada rata-rata harga minyak sepanjang tahun, bukan lonjakan sesaat.

“Kalau harga minyak dunia naik pun kita akan coba absorb lewat APBN dan kami akan kendalikan semaksimal mungkin,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/3).

Purbaya menambahkan bahwa rata-rata harga minyak dunia hingga saat ini masih berada di bawah kapasitas maksimal APBN, sehingga ruang fiskal dinilai masih memadai.

Menkeu menyatakan pemerintah akan memantau perkembangan harga selama satu bulan ke depan sebelum mengambil keputusan kebijakan apapun.

Tekanan ke Neraca Fiskal Mulai Terlihat

Di sisi lain, Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno memperingatkan bahwa kombinasi harga minyak di atas US$100 per barel dan kurs rupiah yang telah menembus Rp17.000 per dolar AS dapat memperlebar defisit anggaran secara signifikan.

Menurut Eddy, dengan asumsi harga minyak saat ini, defisit APBN berpotensi melampaui 3,6% dari PDB, melewati batas yang ditetapkan dalam postur anggaran awal sebesar 2,68%.

Eddy juga menyoroti bahwa Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, dengan total nilai impor migas pada 2025 mencapai US$32,8 miliar atau sekitar Rp551 triliun.

Jika volume impor tetap sama namun harga dan kurs melemah bersamaan, kebutuhan devisa untuk memenuhi impor migas akan meningkat tajam.

Persaingan Pasokan Global Jadi Faktor Tambahan

Eddy menambahkan bahwa penutupan Selat Hormuz akibat konflik dapat mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia yang melewati jalur tersebut setiap harinya.

Kondisi itu mendorong negara-negara importir besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan untuk bersaing memperebutkan pasokan dari sumber alternatif seperti Nigeria, Angola, dan Brasil yang juga merupakan pemasok minyak bagi Indonesia.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pasokan BBM dalam negeri tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Ramadan dan Idul Fitri, serta menjamin harga Pertalite tidak akan naik meski harga minyak dunia berada di level US$118 per barel.


Referensi:

Featured Image: OpenAI