Sudah siap berbagi di momen Lebaran, tapi bingung berapa yang harus kamu keluarkan untuk keluarga besar?
THR keluarga lebaran adalah salah satu pengeluaran yang paling sering tidak dianggarkan dengan serius, padahal nominalnya bisa cukup besar jika tidak direncanakan sejak awal.
THR Keluarga adalah Pengeluaran Sosial yang Berbeda dari THR Pekerjaan
THR keluarga adalah pemberian uang atau hadiah secara sukarela kepada anggota keluarga atau orang-orang terdekat saat momen Lebaran, bukan kewajiban hukum seperti THR dari perusahaan.
THR pekerjaan diatur oleh Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016, yang mewajibkan pengusaha membayar THR minimal satu bulan gaji kepada karyawan yang telah bekerja 12 bulan atau lebih.
Sementara itu, THR keluarga tidak memiliki dasar hukum apa pun dan sepenuhnya bersifat normatif sosial, artinya kamu tidak wajib memberikannya secara hukum, tapi tekanan sosial dan budaya sering kali membuatnya terasa seperti kewajiban.
Perbedaan mendasar lainnya adalah arah aliran uang: THR kerja mengalir dari pemberi kerja ke karyawan, sedangkan THR keluarga mengalir dari individu yang dianggap lebih mapan secara ekonomi ke anggota keluarga yang lebih muda atau membutuhkan.
Memahami perbedaan ini penting agar kamu tidak mencampurkan anggaran keduanya dan bisa membuat keputusan finansial yang lebih jernih.
Siapa Saja yang Termasuk dalam Lingkup Penerima THR Keluarga
Penerima THR keluarga umumnya mencakup anak-anak di bawah usia produktif, orang tua atau mertua, serta keponakan atau saudara yang secara ekonomi masih bergantung pada orang lain.
Dalam praktiknya, lingkup penerima ini bisa sangat bervariasi tergantung struktur keluarga besar, adat daerah, dan seberapa luas kamu mendefinisikan “keluarga”.
Berikut kelompok yang paling umum menjadi penerima THR keluarga:
- Anak kandung atau anak angkat yang belum berpenghasilan
- Orang tua dan mertua sebagai bentuk penghormatan
- Keponakan dari saudara kandung
- Adik atau kakak yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa
- Asisten rumah tangga atau pengemudi pribadi jika ada
Kamu perlu menetapkan batas lingkup penerima sebelum Lebaran tiba, bukan sesaat sebelum atau saat acara berlangsung, karena keputusan mendadak cenderung menghasilkan pengeluaran yang tidak terkontrol.
Bagaimana Cara Menentukan Nominal THR Keluarga yang Wajar
Nominal THR keluarga yang wajar adalah angka yang tidak menekan kondisi keuanganmu setelah Lebaran, bukan angka yang sesuai ekspektasi penerima atau tekanan sosial dari lingkungan.
Tidak ada standar resmi, tapi kamu bisa menggunakan beberapa pendekatan praktis berikut untuk menentukan angkanya:
- Pendekatan persentase: Alokasikan 10-15% dari total THR kerja yang kamu terima khusus untuk THR keluarga.
- Pendekatan nominal tetap: Tentukan nominal per orang berdasarkan kategori penerima, misalnya anak kecil Rp50.000-Rp200.000, orang tua Rp300.000-Rp500.000.
- Pendekatan kapasitas: Hitung total pengeluaran Lebaran, lalu sisihkan porsi THR keluarga setelah kebutuhan primer dipenuhi.
Melansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total pengeluaran hari raya idealnya tidak melebihi satu kali penghasilan bulanan atau setara dengan nilai THR yang diterima dari perusahaan.
Kamu tidak perlu menyesuaikan nominal dengan orang lain karena kondisi finansial setiap orang berbeda, dan membandingkan nominal hanya akan memicu pengeluaran yang tidak rasional.
Cara Menganggarkan THR Keluarga agar Tidak Melebihi Kapasitas Finansial
Cara menganggarkan THR keluarga yang efektif dimulai dari membuat daftar penerima terlebih dahulu sebelum menyentuh angka satu pun.
Langkah sistematis berikut bisa kamu ikuti untuk menyusun anggaran THR keluarga secara proporsional:
- Catat semua penerima potensial beserta kategori hubungan dan usia mereka.
- Tetapkan nominal per kategori, bukan per orang, agar konsisten dan mudah dikontrol.
- Hitung total kebutuhan dari semua penerima yang sudah dicatat.
- Bandingkan dengan kapasitas anggaran yang kamu miliki, yaitu batas maksimal yang sudah kamu tentukan dari total THR kerja.
- Sesuaikan jika melebihi batas dengan cara memperkecil nominal atau mempersempit lingkup penerima.
- Siapkan dana dalam amplop atau transfer jauh sebelum hari H agar tidak tergoda mengambil dari pos lain.
Menurut Sikapi Uangmu OJK, salah satu kesalahan keuangan paling umum saat Lebaran adalah tidak memisahkan dana THR dari rekening utama, sehingga pengeluaran sosial dan operasional bercampur dan sulit dilacak.
Membuka rekening atau dompet digital terpisah khusus untuk keperluan Lebaran adalah langkah kecil yang berdampak besar terhadap kontrol pengeluaran.
Kamu juga perlu berdiskusi dengan pasangan jika sudah berkeluarga, karena keputusan THR keluarga yang tidak dikomunikasikan sering menjadi sumber konflik finansial pasca Lebaran.
Jika kamu merasa lingkup penerima terlalu luas, tidak ada salahnya menetapkan batas usia penerima, misalnya hanya anak di bawah 17 tahun, agar anggaranmu tetap terkendali tanpa harus merasa bersalah.
Kesimpulan
THR keluarga lebaran adalah pengeluaran sosial yang nyata dan perlu direncanakan seperti pengeluaran finansial lainnya, bukan sesuatu yang bisa diabaikan sampai momen Lebaran tiba.
Langkah konkret yang bisa kamu ambil sekarang: buka spreadsheet atau catatan sederhana, tulis semua calon penerima, tetapkan nominalnya, lalu pastikan totalnya masuk dalam kapasitas finansialmu sebelum hari H.
FAQ
Apakah THR keluarga wajib diberikan setiap tahun?
THR keluarga tidak wajib secara hukum, sehingga kamu bisa menyesuaikan atau tidak memberikannya tergantung kondisi finansial tanpa ada konsekuensi hukum apa pun.
Berapa persen ideal dari THR kerja yang dialokasikan untuk THR keluarga?
Secara umum, 10-15% dari total THR kerja adalah proporsi yang wajar untuk dialokasikan sebagai THR keluarga, tapi angka ini tetap harus disesuaikan dengan jumlah penerima dan kondisi keuanganmu secara keseluruhan.
Bagaimana jika total kebutuhan THR keluarga melebihi anggaran yang tersedia?
Kamu bisa memperkecil nominal per penerima atau mempersempit lingkup penerima, misalnya hanya memberikan kepada anak-anak dan orang tua langsung, daripada memaksakan anggaran yang berpotensi mengganggu keuangan pasca Lebaran.
