Mandiri Finansial – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada Senin (9/3/2026) setelah lumpuhnya jalur pelayaran di Selat Hormuz memaksa produsen utama Timur Tengah memangkas produksi secara besar-besaran.

Menurut Bloomberg Technoz, harga minyak jenis Brent melonjak 26,09% menjadi US$117 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 27,68% menjadi US$116,04 per barel.


Key Takeaways:

  • Harga Brent menembus US$117/barel, tertinggi dalam lebih dari 2,5 tahun terakhir.
  • Produksi minyak dari ladang selatan Irak anjlok sekitar 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari.
  • Saham emiten migas di BEI justru ambruk lebih dari 4% meski harga minyak global melonjak.

Ini menjadi level harga tertinggi minyak mentah dalam lebih dari 2,5 tahun terakhir, melampaui level US$100 per barel untuk pertama kali sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Berdasarkan data OilPrice.com yang dipantau Kompas.com, harga Brent berada di level US$115,98 per barel dan WTI di US$115,34 per barel pada pukul 11.20 WIB.

Selat Hormuz Lumpuh, Produksi Irak Anjlok 70%

Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar seperlima dari total minyak dan LNG global, praktis tidak dapat dilalui kapal tanker akibat meningkatnya ancaman keamanan di kawasan Teluk Persia.

Menurut sumber industri yang dikutip Reuters, produksi dari ladang minyak utama di selatan Irak turun sekitar 70% menjadi hanya sekitar 1,3 juta barel per hari (bph).

Angka tersebut jauh di bawah kapasitas produksi normal yang mencapai sekitar 4,3 juta bph sebelum konflik meningkat.

Ekspor minyak Irak juga anjlok menjadi sekitar 800.000 bph pada Minggu (8/3/2026), jauh di bawah angka 3,334 juta bph yang tercatat pada Februari 2026 berdasarkan dokumen Kementerian Minyak Irak.

Seorang pejabat senior Kementerian Minyak Irak menyebut situasi ini sebagai ancaman paling serius bagi sektor energi negara tersebut dalam dua dekade terakhir, dikutip dari CNBC.

Kuwait juga mengumumkan penurunan produksi dan output kilang karena kapal tanker tidak dapat melewati Teluk Persia akibat ancaman dari Iran, meski tidak merinci jumlah pemangkasan secara spesifik.

Saham Migas di BEI Justru Amblas

Di tengah lonjakan harga minyak global, indeks sektor energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru ambruk lebih dari 4%, menurut Bloomberg Technoz.

Sektor energi menjadi salah satu yang mengalami koreksi paling dalam, bersaing dengan sektor transportasi yang juga turun 4,1%.

Koreksi ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan rantai pasok energi global justru menekan prospek emiten migas domestik dalam jangka pendek.


Referensi:

Featured Image: OpenAI