Mandiri Finansial – Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai memangkas produksi minyak setelah gangguan besar di Selat Hormuz memukul rantai pasokan energi global secara langsung.
Key Takeaways:
- Kuwait memangkas produksi dari level 2,6 juta barel per hari; Irak sudah memotong hingga 1,5 juta barel per hari.
- Harga minyak Brent naik 8,52% ke US$92,69 per barel; JPMorgan proyeksikan Brent tembus US$100 jika Hormuz tertutup lebih dari tiga minggu.
- Qatar sempat menghentikan produksi LNG, mengancam 20% pasokan gas alam cair dunia.
Mengutip CNBC, pemerintah Kuwait menyebut pemangkasan ini sebagai tindakan pencegahan karena kapal tanker tidak dapat melintasi Teluk Persia dengan aman di tengah ancaman Iran.
Kuwait Petroleum Corporation menyatakan pihaknya menurunkan produksi di ladang minyak dan kilang setelah ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Co. menyatakan pihaknya sedang mengelola tingkat produksi lepas pantai untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Kuwait sendiri merupakan produsen minyak terbesar kelima dalam OPEC dengan kapasitas produksi sekitar 2,6 juta barel per hari pada Januari 2026.
Lalu lintas kapal tanker yang berhenti menyebabkan minyak menumpuk di kawasan Timur Tengah karena kapasitas penyimpanan yang terbatas, sehingga sejumlah produsen terpaksa memotong output.
Irak dilaporkan telah memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari karena fasilitas penyimpanan minyak sudah penuh, berdasarkan laporan dari Beritasatu.
Pada perdagangan terakhir, harga minyak Brent ditutup naik 8,52% atau US$7,28 menjadi US$92,69 per barel, sementara WTI melonjak 12,21% atau US$9,89 ke level US$90,90 per barel.
Proyeksi JPMorgan dan Risiko Pasar Global
Kepala riset komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menyatakan pasar energi kini tidak lagi sekadar memperhitungkan risiko geopolitik, tetapi sudah menghadapi gangguan operasional nyata terhadap pasokan.
Menurut proyeksi JPMorgan, pemangkasan produksi minyak global dapat melampaui 4 juta barel per hari apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga pekan depan.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga minyak Brent menembus US$100 per barel apabila konflik di kawasan berlangsung lebih dari tiga minggu.
Dampak ke Inflasi Global Mulai Terasa
Gangguan ini tidak hanya menekan pasar minyak, tetapi juga mulai merambat ke ekonomi negara-negara importir energi besar.
Menurut analisis Deutsche Bank yang dikutip Investing.com, guncangan minyak akibat penutupan Selat Hormuz dapat mendorong inflasi utama Inggris kembali mendekati level 3% pada akhir 2026.
Deutsche Bank mencatat kenaikan harga minyak sebesar 10% secara berkelanjutan biasanya menambah sekitar 0,2 hingga 0,3 poin persentase pada inflasi utama Inggris dalam jangka enam hingga 12 bulan.
Pasar swap kini memperkirakan probabilitas lebih tinggi bahwa Bank of England akan mempertahankan suku bunga ketat hingga 2027 sebagai respons terhadap tekanan inflasi dari harga energi yang melonjak.
Referensi:
- Bloomberg Technoz, UEA & Kuwait Mulai Kurangi Produksi Minyak usai Blokade Hormuz. Diakses pada 8 Maret 2026.
- Berita Satu, Kuwait Pangkas Produksi Minyak Saat Selat Hormuz Lumpuh Imbas Perang. Diakses pada 8 Maret 2026.
- MetroTV, Guncangan Energi Timur Tengah Ancam Inflasi Inggris Naik Jadi 3%. Diakses pada 8 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
