Mandiri Finansial – Perang antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran telah memicu guncangan pasar keuangan global sejak konflik dimulai pada Senin (28/4).
Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level 92,69 dolar AS per barel pada Jumat (7/3), atau naik 28,7% selama sepekan.
Sementara harga minyak mentah WTI ditutup di level 90,90 dolar AS per barel, mencatat kenaikan mingguan 35,63% dan menjadi lonjakan terbesar sejak 1983.
Key Takeaways:
- Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia terganggu akibat konflik di Selat Hormuz.
- Negara pengimpor minyak seperti India, Jepang, dan Tiongkok menghadapi tekanan ekonomi paling besar.
- Dolar AS diperkirakan menguat jangka pendek, namun berisiko melemah dalam jangka panjang.
Analis JP Morgan menyatakan pasar kini menghadapi gangguan operasional nyata karena penutupan kilang dan pembatasan ekspor mulai mengganggu pasokan minyak.
Menurut laporan JP Morgan yang dikutip dari Reuters, penutupan hampir total jalur pelayaran di Selat Hormuz membuat sejumlah negara produsen besar menghentikan pengiriman.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait dilaporkan menghentikan pengiriman hingga sekitar 140 juta barel minyak ke kilang di berbagai negara.
Negara Pengimpor Minyak Paling Terdampak
Laporan Macquarie yang dikutip dari Investing.com menyoroti perbedaan tajam antara prospek negara pengimpor dan pengekspor minyak dalam konflik ini.
India disebut sebagai negara yang sangat rentan karena bergantung pada kawasan Timur Tengah untuk 85% kebutuhan impor minyaknya.
Jepang, Tiongkok, dan Eropa juga masuk kategori berisiko tinggi karena ketergantungan besar mereka pada pasokan dari Teluk Persia.
Sebaliknya, Brasil, Kanada, dan Norwegia berada dalam posisi lebih baik karena memiliki cadangan dan kapasitas ekspor yang besar, menurut Macquarie.
Analis Macquarie, Thierry Wizman dan Gareth Berry, memperingatkan premi asuransi untuk jalur Selat Hormuz telah melonjak antara 25% hingga 100%.
Indeks saham utama Eropa rata-rata turun lebih dari 2% dan kontrak berjangka indeks AS diperdagangkan lebih rendah lebih dari 1%, menurut laporan Macquarie.
Dolar AS Menguat Jangka Pendek, Risiko Jangka Panjang Membayangi
Bank of America menyampaikan pasar valuta asing bereaksi moderat dengan penguatan umum dolar AS sesuai ekspektasi historis saat terjadi guncangan pasokan minyak.
Menurut analisis BofA, dolar Kanada dan dolar AS biasanya berkinerja lebih baik saat terjadi guncangan harga minyak, sementara dolar Selandia Baru dan dolar Australia cenderung melemah.
BofA secara khusus menyoroti pasangan CADJPY dan NZDUSD sebagai potensi peluang investasi di tengah volatilitas yang meningkat saat ini.
Namun Macquarie tidak optimis terhadap prospek dolar AS jangka panjang, dengan memperingatkan kemungkinan percepatan adopsi Yuan Tiongkok sebagai alat tukar alternatif.
Laporan Macquarie juga mengingatkan inflasi yang dipicu perang dapat mendorong Federal Reserve mengambil sikap lebih agresif terhadap suku bunga dari yang sebelumnya diperkirakan.
Referensi:
- MetroTV, Pasar Keuangan Global Terguncang Perang AS-Iran. Diakses pada 8 Maret 2026.
- MetroTV, Gejolak Harga Minyak Imbas Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Dolar AS ‘Untung’. Diakses pada 8 Maret 2026.
- Kompas, Dampak Perang AS-Israel Vs Iran, Harga Energi Terancam Tinggi Berbulan-bulan. Diakses pada 8 Maret 2026.
Featured Image: OpenAI
