Pernah merasa anggaran Lebaran habis sebelum hari H, padahal THR sudah cair dari jauh hari?

Masalah ini sering terjadi bukan karena penghasilan kurang, tapi karena metode pengelolaan uang yang digunakan tidak proporsional terhadap kondisi keuangan masing-masing orang.

Definisi Budgeting Berbasis Persentase dan Bedanya dengan Metode Nominal

Budgeting berbasis persentase adalah metode penganggaran yang mengalokasikan pengeluaran berdasarkan proporsi dari total pemasukan, bukan angka tetap dalam rupiah.

Metode ini berbeda secara mendasar dengan metode nominal, di mana seseorang menetapkan angka rupiah langsung untuk setiap pos pengeluaran tanpa mempertimbangkan berapa besar pendapatannya saat itu.

Pada metode nominal, misalnya, seseorang bisa saja menetapkan anggaran mudik sebesar Rp2 juta tanpa memperhitungkan apakah angka itu masuk akal dibandingkan total penghasilan bulan tersebut.

Sebaliknya, pada metode persentase anggaran, seseorang akan menetapkan misalnya 20% dari total pemasukan untuk biaya perjalanan, sehingga angka absolutnya akan menyesuaikan secara otomatis dengan besaran THR yang diterima.

Pendekatan ini lebih adaptif karena bersifat proporsional dan tidak bergantung pada angka target yang bisa saja tidak realistis bagi sebagian kalangan.

Salah satu kerangka yang paling dikenal dalam budgeting berbasis persentase adalah aturan 50/30/20, yang membagi pengeluaran menjadi tiga kategori: kebutuhan (50%), keinginan (30%), dan tabungan atau investasi (20%).

Kerangka ini dapat dimodifikasi sesuai konteks Lebaran, misalnya dengan menambahkan pos khusus seperti parsel, zakat, atau THR untuk karyawan rumah tangga.

Bagaimana Sistem Persentase Bekerja dalam Konteks THR dan Pengeluaran Lebaran

Alokasi THR persentase bekerja dengan cara menetapkan porsi tertentu dari nilai THR untuk setiap kategori pengeluaran Lebaran secara proporsional.

Langkah pertama adalah menghitung total THR bersih yang kamu terima setelah potongan pajak, karena angka inilah yang menjadi basis perhitungan seluruh alokasi.

Setelah angka bersih diketahui, kamu bisa membagi pos pengeluaran ke dalam beberapa kategori dengan persentase yang telah ditentukan sebelumnya.

Berikut adalah contoh kerangka alokasi THR berbasis persentase yang dapat dijadikan acuan:

  • Zakat dan sedekah: 10-15%
  • Kebutuhan mudik dan transportasi: 20-25%
  • Konsumsi dan hampers: 15-20%
  • Pakaian dan kebutuhan Lebaran: 10-15%
  • Tabungan atau investasi: 20-25%
  • Dana darurat dan lain-lain: 5-10%

Persentase di atas bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan prioritas keluarga masing-masing, selama total seluruh pos tidak melebihi 100%.

Yang paling penting, setiap keputusan pengeluaran dikembalikan pada satu pertanyaan: apakah pengeluaran ini masih dalam batas persentase yang sudah ditetapkan?

Melansir Investopedia, pendekatan berbasis persentase secara historis terbukti membantu individu dan rumah tangga menghindari overspending karena batasan pengeluaran selalu berkaitan langsung dengan kemampuan finansial aktual.

Kelebihan dan Keterbatasan Metode Ini untuk Keluarga dengan Penghasilan Berbeda

Metode persentase anggaran memiliki keunggulan utama berupa skalabilitas, artinya sistem ini bekerja secara konsisten baik untuk keluarga berpenghasilan rendah maupun tinggi.

Keluarga dengan THR kecil tidak perlu merasa terpaksa mengeluarkan nominal tertentu hanya karena mengikuti anggaran orang lain, karena alokasi mereka secara otomatis menyesuaikan proporsi penghasilan.

Ini juga mengurangi tekanan sosial yang kerap muncul saat Lebaran, di mana banyak orang terdorong mengeluarkan uang melebihi kemampuan demi menjaga penampilan atau memenuhi ekspektasi keluarga.

Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan yang perlu kamu pahami sebelum menerapkannya.

Pertama, beberapa pengeluaran Lebaran bersifat tidak proporsional terhadap penghasilan, misalnya tiket kereta mudik yang harganya tetap sama bagi semua orang tanpa memandang besaran THR.

Kedua, metode ini membutuhkan disiplin untuk tidak memindahkan anggaran antar pos saat ada godaan pengeluaran tambahan di tengah jalan.

Ketiga, bagi keluarga dengan THR sangat kecil, persentase yang dihasilkan per kategori mungkin tidak cukup untuk menutupi pengeluaran minimum yang memang sudah fixed, seperti ongkos mudik jarak jauh.

Menurut NerdWallet, solusi terbaik dalam situasi ini adalah menggabungkan metode persentase dengan pendekatan zero-based budgeting untuk pos-pos yang nilainya tidak bisa ditekan lebih jauh.

Contoh Penerapan Nyata: Keluarga dengan THR Rp5 Juta vs Rp15 Juta

Perbandingan dua keluarga dengan THR berbeda akan memperlihatkan secara konkret bagaimana budgeting berbasis persentase bekerja secara adil dan proporsional.

Keluarga A: THR Rp5 Juta

Dengan THR Rp5 juta, alokasi 10% untuk zakat berarti Rp500.000, 20% untuk mudik berarti Rp1.000.000, 15% untuk konsumsi dan hampers berarti Rp750.000, 10% untuk pakaian berarti Rp500.000, dan 20% untuk tabungan berarti Rp1.000.000.

Sisa 25% atau sekitar Rp1.250.000 bisa dialokasikan untuk dana darurat dan pengeluaran tak terduga selama periode Lebaran.

Dengan kerangka ini, keluarga A tidak memaksakan diri mengeluarkan biaya mudik yang jauh melebihi kemampuan, dan tetap bisa menabung meski dalam jumlah kecil.

Keluarga B: THR Rp15 Juta

Dengan proporsi yang sama, keluarga B mengalokasikan Rp1.500.000 untuk zakat, Rp3.000.000 untuk mudik, Rp2.250.000 untuk konsumsi dan hampers, Rp1.500.000 untuk pakaian, dan Rp3.000.000 untuk tabungan.

Angka yang lebih besar memberi fleksibilitas tambahan, misalnya untuk memberikan amplop lebaran kepada keluarga besar atau membeli hampers dengan nilai lebih tinggi.

Yang menarik, persentase yang digunakan kedua keluarga identik, namun nilai absolut dan kapasitas pengeluaran mereka berbeda secara signifikan tanpa ada satu pun yang “salah” dalam pengelolaannya.

Ini adalah bukti bahwa metode persentase anggaran bersifat inklusif dan dapat diterapkan oleh siapa saja, terlepas dari besaran penghasilan.

Kesimpulan

Budgeting berbasis persentase memberikan kerangka yang adil, fleksibel, dan proporsional untuk mengelola THR Lebaran tanpa harus membandingkan diri dengan kondisi finansial orang lain.

Mulailah dengan menghitung THR bersih kamu, tetapkan persentase untuk setiap pos sesuai prioritas keluarga, lalu pegang komitmen itu hingga Lebaran usai.

Jika kamu ingin lebih mudah menerapkan metode ini, gunakan aplikasi keuangan yang mendukung fitur alokasi berbasis persentase agar prosesnya lebih otomatis dan akurat.

FAQ

Apakah budgeting berbasis persentase cocok untuk semua besaran THR?

Ya, metode ini dirancang agar proporsional terhadap pemasukan, sehingga cocok digunakan oleh siapa saja tanpa memandang besaran THR yang diterima.

Berapa persen THR yang idealnya dialokasikan untuk tabungan saat Lebaran?

Secara umum, minimal 20% dari THR sebaiknya dialokasikan untuk tabungan atau investasi, meski angka ini bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Apa perbedaan utama metode persentase dengan metode nominal dalam budgeting Lebaran?

Metode persentase mengalokasikan pengeluaran berdasarkan proporsi dari penghasilan, sedangkan metode nominal menetapkan angka rupiah tetap yang tidak selalu sesuai dengan kondisi keuangan aktual.