Konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran telah membekukan jalur energi paling strategis di dunia dalam waktu kurang dari sepekan.

Lalu lintas kapal dagang di sekitar Selat Hormuz turun lebih dari 85% pada periode 1–6 Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut analisis Bloomberg terhadap data pengiriman.


Key Takeaways:

  • Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok lebih dari 85% dalam sepekan konflik.
  • Harga minyak mentah AS melonjak 35,63%, kenaikan mingguan terbesar sejak 1983.
  • JPMorgan memperkirakan pemangkasan produksi bisa melebihi 4 juta barel per hari jika Selat Hormuz tetap tertutup.

Sekitar seperlima dari kapal yang masih melintas tercatat mematikan sistem identifikasi otomatis mereka, berdasarkan data Bloomberg.

Harga minyak mentah acuan global mencatat lonjakan bersejarah pada pekan ini akibat gangguan pasokan tersebut.

Kontrak berjangka Brent ditutup di level 92,69 dollar AS per barel pada Jumat (6/3/2026), naik 28% dalam sepekan, menurut laporan Kompas.com.

Minyak mentah West Texas Intermediate melonjak 35,63% secara mingguan, menjadikannya kenaikan terbesar sejak kontrak berjangka pertama kali diperdagangkan pada 1983.

Produksi Teluk Tertekan dari Dua Sisi

Kuwait mengumumkan pemangkasan produksi minyak dan output kilang pada Sabtu (7/3/2026), karena kapal tanker tidak dapat melintasi Teluk Persia akibat ancaman serangan Iran.

Kuwait merupakan produsen minyak terbesar kelima di OPEC dengan kapasitas sekitar 2,6 juta barel per hari pada Januari 2026, menurut Kompas.com.

Irak juga telah memangkas produksi sebesar 1,5 juta barel per hari karena kehabisan kapasitas penyimpanan, berdasarkan keterangan pejabat Irak kepada Reuters pada Selasa (3/3/2026).

Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) pada Senin akibat serangan Iran, mengganggu sekitar 20% ekspor LNG dunia yang bersumber dari negara tersebut.

Natasha Kaneva, kepala riset komoditas global JPMorgan, menyatakan bahwa pasar kini bergeser dari sekadar memperhitungkan risiko geopolitik menuju menghadapi gangguan operasional yang nyata.

JPMorgan memperkirakan pemangkasan produksi dapat melebihi 4 juta barel per hari pada akhir pekan depan jika Selat Hormuz tetap ditutup, dan harga Brent berpotensi melampaui 100 dollar AS per barel.

Rantai Perjalanan Wisata Ikut Terguncang

Dampak konflik tidak hanya menyentuh sektor energi, tetapi juga industri perjalanan wisata Indonesia.

Ika Hidayat dari Wita Tour menyatakan kepada Beritasatu.com pada Sabtu (7/3/2026) bahwa konflik di Timur Tengah sudah dirasakan oleh pelaku usaha travel, khususnya untuk rute perjalanan ke Eropa.

Operasional maskapai seperti Qatar Airways dan Emirates terganggu bahkan terhenti sementara akibat aksi militer di kawasan tersebut.

Sebagian wisatawan mulai memilih untuk menunda perjalanan dan menunggu perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan.


Referensi:

Featured Image: OpenAI