Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam pada sesi I perdagangan Jumat (6/3), turun 201,44 poin atau 2,61% ke level 7.509,10 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global.


Key Takeaways:

  • IHSG turun 2,61% ke 7.509 dengan net foreign sell Rp83,78 miliar pada sesi I Jumat (6/3).
  • Konflik Iran versus koalisi AS-Israel memicu lonjakan harga minyak dan menggeser ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed ke September–Oktober.
  • Indonesia dinilai rentan karena posisinya sebagai negara pengimpor minyak, meski cadangan devisa masih aman di level US$151,9 miliar.

IHSG dibuka di level 7.699,47 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 7.700,32 sebelum tergelincir hingga level terendah 7.504,35 sepanjang sesi pagi.

Nilai transaksi tercatat sekitar Rp8,86 triliun dengan volume mencapai 182,94 juta lot berdasarkan data perdagangan yang dirilis Kabar Bursa.

Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset hariannya menyebut pelemahan IHSG dipicu sentimen global yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan jelang akhir pekan.

Menurut Pilarmas, ketegangan yang melibatkan Iran serta koalisi Amerika Serikat dan Israel memicu lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) bergeser ke periode yang lebih lama, yakni sekitar September atau Oktober.

Indonesia Minim Bantalan dari Gejolak Minyak

Tim Riset Bloomberg Intelligence yang terdiri dari Sufianti dan Peggy Lim menilai kawasan Asia Tenggara secara umum merupakan importir minyak terbesar sehingga rentan terhadap kenaikan harga energi yang berkepanjangan.

Menurut Bloomberg Intelligence, kenaikan harga minyak mentah berpotensi menekan neraca perdagangan, meningkatkan inflasi domestik, serta mencekik margin korporasi di negara-negara pengimpor.

Sektor finansial yang mendominasi bobot IHSG seharusnya menjadi bantalan saat harga minyak bergejolak, namun prospek makro Indonesia dinilai telah mengeliminasi keunggulan komposisi sektoral tersebut.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa per Februari 2026 tercatat sebesar US$151,9 miliar, turun dari US$154,6 miliar pada Januari 2026.

Posisi cadangan devisa tersebut masih setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor dan jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Dana Asing Masih Selektif Masuk

Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp83,78 miliar dengan nilai pembelian Rp2,97 triliun dan penjualan Rp3,05 triliun.

Investor domestik mendominasi perdagangan dengan porsi sekitar 67,96% dari total transaksi, sementara kontribusi asing tercatat sekitar 32,04%.

Di tengah tekanan indeks, data Stockbit Sekuritas menunjukkan sejumlah saham masih mencatatkan akumulasi asing, termasuk BUMI dengan net foreign buy 169,77 juta saham, GOTO sebesar 151,58 juta saham, dan BNBR sebesar 77,30 juta saham.

Pilarmas juga mencatat pemerintah Tiongkok menetapkan target pertumbuhan PDB sekitar 4,5%–5% pada 2026, yang dinilai mencerminkan sikap hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini.


Referensi:

Featured Image: OpenAI